Friday, December 5, 2008

Elisia (Part 5: The Letter of Hope)

Salam buat Edward Ferlan,

Jika kau menerima surat ini, berarti kau tahu ada sesuatu yang disembunyikan dan tak pernah ingin diungkap. Namun, demi sebuah harapan dan impian yang tersusun rapi untuk dicipta, rahasia ini harus dibuka demi harapan-harapan itu.

 

Edward,

Terima kasih sudah menjagaku, mengajariku, dan memberikanku arti kehidupan. Ya, arti kehidupan. Banyak persepsi makna kehidupan, namun selalu tak tahu bagaimana menghargai kehidupan. Seperti musik yang selalu memberikan contoh-contoh untuk manusia agar menghargai hidup. Seperti kau yang selalu menikmati musik, seperti itu kau menghargai hidupmu.

 

Seorang sahabatkah, atau pantasnya kupanggil sebagai pelindungku, penyelamatku ketika aku diselimuti oleh kabut dingin malam tak berbintang atau berbintang. Tak pernah aku sangka aku akan mengatakan ini. Kebenaran yang aku simpan ketika bertemu denganmu, bahwa aku telah menghilang dari Kerajaan Eviania. Itu aku lakukan demi mimpi dan cita-citaku untuk menjadi seorang Pianist. Menjadi Pianist adalah sebuah harapan yang bertentangan dengan darahku. Jika aku mengambil mimpi itu, maka aku akan terbuang menjadi seseorang yang sama sepertimu. Gelar Putri yang aku sandang akan menjadi hampa, dan keluarga akan menjadi merah, seperti darah. Kasta itu memang sangat kejam!

 

Edward sang ksatriaku. Aku memiliki keinginan yang tak terbendung untuk meraih mimpiku dan aku pergi dari tahtaku. Menghilang tak diketahui oleh orangtuaku. Di waktu itu, di jalan sepi di mana alunan musik berhenti di Mezena, Ern Li Fach, di waktu itulah aku melepaskan semuanya. Dan, di masa itu pulalah aku kehilangan arah, tak bertujuan dengan satu mimpi di tangan tergenggam erat. Pianist.

 

Ketika semua terasa jauh, aku merasa lelah, aku tak tahu berjalan ke mana, aku tak mengerti kemauan kakiku yang terus berjalan hingga akhirnya mata terpejam dengan sendirinya. Pelan-pelan, saat mata terbuka, Putra Pelindung yang aku tak tahu namanya menolongku. Seperti malaikat! Kau memberiku satu tetes air harapan untuk hidup. Ya, hidup untuk meraih cita-citaku menjadi Pianist.

 

Edward…

Pelindung terbaik yang dimiliki olehku. Kau tak hanya memberiku harapan dan jalan, tapi menjadi bahu di mana aku bisa menyandarkan semua harapanku. Saat tawa dan tangis kita menghias kisah hidup, waktu seolah berjalan bersama kita. Dan di harapan itu, aku tak ingin merusaknya. Di masa-masa yang terus berjalan, aku merasakan ada cercah yang kukenal sebagai cinta, namun aku ragu. Ingin kukatakan, tapi tak kuasa kuucap. Jadi, diam memendam harapan dalam ungkapan cinta yang tak tersampaikan.

 

Edward…

Maafkan aku merahasiakan semuanya padamu. Maafkan aku yang diam saja. Maafkan atas acuhku pada rahasia yang tak semestinya kurahasiakan. Harapanku, saat aku mendengar bahwa kita akan memainkan musik bersama, di atas panggung megah, aku melihat ada harapan untuk cintaku. Namun, lagi tahta dan darahku mencegahnya. Menutupnya dengan perisai baja hingga aku merasa sulit membukanya.

 

Wahai kekasih harapanku, Edward.

Mungkin aku adalah Putri yang akan kau benci. Putri yang tak tahu balas budi. Pergi meninggalkanmu seperti tak bermakna. Maafkan aku…

 

Ed…

Ada satu harapan yang menjadi pintaku saat ini untukmu, satu pinta yang ingin kulihat dengan imajinasiku.

 

Di saat aku tak ada di sisimu, di mana piano di atas panggung agung tak bernyawa berdiri sendiri, inginku kau ada memainkannya. Memainkan nada-nada merdu yang bermakna cahaya kebenaran. Hanya itu, inginku…

 

Jaga dirimu, pangeranku…

 

Elisia Lefinia

 

Tetes air mata jatuh membasahi pipi

Isak tak bersuara namun hati menangis

Sang Kekasih duduk diam membisu dengan kerut sedih merona di seluruh wajah

Hingga getar kaki dan tangan tak kuasa merengkuh surat dari kekasih

 

Ed membisu. Ia tak tahu harus berbuat apa. Berkata saja tidak sanggup. Sempat terpikir ia harus pergi ke Vennesa menyusul Elisia. Tapi, apa bisa ia diterima di istana? Keinginan ada, jalan tidak ada.

Satu malam berlalu, Ed diam saja. Ia terus duduk di depan piano di mana Elisia sering sekali memainkannya. Ia juga tahu ia sering memainkannnya berdua. Jika mengenang itu, hatinya terasa terbakar. Sayat-sayat luka tercipta samar tak terlihat. Hanya nadi hati mampu merasakan sakitnya hingga mata tak henti meneteskan air mata – mata air tercipta sendirinya di dalam batin.

“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang bisa kulakukan?”

Ed tertunduk.

“Betapa bodohnya aku – insan manusia yang tak sadar kehadiran anugerah bernama cinta. Betapa bodohnya aku menyiakan waktu dan kalah oleh waktu. Tak ada kesempatan untuk kembali. Memutar waktu adalah mimpi yang tak akan pernah bisa tercipta.”

Ed menghentak tuts piano dengan jari-jarinya hingga terdengar suara-suara tak beraturan terdengar latang.

“ELISIA!!” teriak Ed. Kemudian, pelan-pelan ia tertunduk di mana suasana tak bersuara, hening.

“Kenapa cinta ini sulit sekali untuk tercipta dengan benar? Adakah ini cobaan biasa? Ataukah ini liku-liku cinta yang semestinya aku jalani? Atau, haruskah aku memilih antara cinta dan mimpi? Harapan macam apa ini…?”

Ed berdiri. Ia tampak gelisah.berputar-putar sambil berpikir tentang kebenaran dalam sepucuk surat dan tindakan yang tak ada guna kelak.

“Elis..sia…” gumam Ed dalam hati.

“Aku…harus apa?”

“Bagaimana?”

“Aku hampa?”

“Kosong…”

“Tak ada apa-apa.”

“Tak ada suara…”

“Sepi…”

“Aku…

“Sendiri…”

 

Bersambung

N.R. ISWAHYUDHI

Posted by Yudhi in 12:18:28 | Permalink | Comments (2)

Thursday, September 4, 2008

Elisia (Part 4: The End of Fields of Hope)

Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa sudah satu bulan sejak Edward dan Elisia bertemu. Kini mereka sudah begitu akrab. Bisa dikatakan bahwa mereka sangat akrab, seperti saudara. Di sekolah, mereka tampak ceria, bahkan Eva sering memperhatikan mereka yang selalu tertawa, apalagi di saat Ed sedang bercanda dengan biolanya di taman. Di saat serius, Ed dan Elisia tampak tegang. Mereka seperti sepasang komposer muda jenius dan seluruh sekolah mengetahui itu, bahkan kepala sekolah mengetahuinya. Hingga akhirnya sebuah kejutan menghampiri mereka.

“Ed! Kau dipanggil Kepala Sekolah, katanya ada yang ingin ia bicarakan denganmu.” Ucap salah seorang teman sekelas Ed.

“Apa salahku?” gumam Ed dalam hati.

“Kau tidak salah, mungkin saja ada beasiswa untukmu!” ucap Eva.

Mungkin saja. Tapi, Ed tahu bahwa dirinya bukanlah siswa yang pandai, apalagi sampai mendapatkan beasiswa. Mendaftarkan diri untuk mendapatkannya saja tidak pernah, apalagi mendapatkannya secara tiba-tiba, itu tidak wajar bukan?

“Ed! Temui Kepala Sekolah sekarang!!” bentak Eva agar bergegas.

“Iya, iya!”

Ed berdiri dan beranjak pergi.

Di ruang kepala sekolah, Ed masuk dengan sopan.

“Masuk!” ajak Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah duduk di kursinya dan Ed di depannya di mana hanya dipisahkan oleh meja yang ada di depan mereka.

“Ada keperluan apa, Pak, sehingga saya dipanggil di sini?” tanya Ed.

“Bapak sudah mendengar kemampuanmu memainkan biola, bahkan Elisia. Guru-guru ramai membicarakan kalian berdua. Awalnya memang tampak aneh karena jarang ada yang suka memainkan musik-musik klasik yang tidak sesuai dengan instrumen musiknya. Tapi, kalian berdua berhasil bahkan memberi warna baru.” Jelas Kepala Sekolah.

“Lalu?”

“Ya, karena kalian sering latihan dan Bapak sudah mendengar sendiri permainan kalian, Bapak membuat surat agar kalian berdua diberi beasiswa penuh di Estalina, usai pendidikan di sini. Dan hasilanya kalian mendapatkannya.”

“APA!?” Ed terkejut, “Bapak serius?”

Estalina adalah universitas musik terkemuka di Eviania. Estalina berada di kota Vennesa, tepatnya ibu kota Eviania di mana istana Eviania berada. Di sanalah pusat kota negeri Eviania sesungguhnya. Untuk mencapainya saja memakan waktu kurang lebih dua hari perjalanan darat.

“Ya, kau dan Elisia sudah disetujui oleh Estalina. Tinggal menunggu kelulusan saja.”

“Bapak tidak bercanda, kan?”

Kepala Sekolah tertawa terbahak-bahak, “Bagaimana mungkin aku bercanda, ini suratnya.”

Kepala Sekolah menunjukkan surat itu. Benar sekali! Ed dan Elisia diterima di Universitas Estalina. Rasanya memang sulit dipercaya, namun itulah kenyataan.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Pak?” tanya Ed.

“Sederhana, persiapkan dirimu. O ya! Selain itu, kau harus tampil pada malam perpisahan nanti. Kau dan Elisia, siap bukan?”

“Dengan senang hati!” Ed menjawab penuh semangat.

“Baiklah, kembali ke kelas dan ikuti pelajaran dengan baik.”

Ed bergegas beranjak pergi, namun ia terhenti di depan pintu.

“Maaf, Pak! Apa Elisia sudah tahu kabar ini?”

“Bapak sudah memberitahunya, namun ia tampak tidak begitu bahagia. Mungkin ia sedang ada masalah atau tidak enak badan, sepertinya.”

Ed merasa aneh, tidak mungkin kabar bahagia ini membuat Elisia sedih. Ia tentu senang sekali. Jika benar Elisia seperti apa yang Kepala Sekolah katakan, mungkin saja ia sedang memiliki masalah. Sepertinya Ed harus menemuinya pada waktu istirahat nanti.

Pada waktu istirahat tiba, Ed pergi ke kelas piano. Itu adalah tempat biasa di mana Ed dan Elisia menghabiskan waktunya.

Tok! Tok! Tok! Pintu diketuk. Ed mengintip sedikit. Ia melihat Elisia sedang duduk melamun.

“Hallo! Melamunkan sesuatu?” tanya Ed sambil menghampiri.

Salam Ed diacuhkan. Elisia tampak tak tahu dengan kehadiran Ed. Namun, tiba-tiba satu nada dari tuts piano diketuk oleh Ed hingga membuat Elisia terkejut.

“Ed!?” Elisia menoleh kepada Ed yang ada di sampingnya.

“Kau kenapa? Melamunkan apa?”

“Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Ujar Elisia yang tampak sedang mencoba tampak biasa.

“Lalu?”

“Ya, tidak ada apa-apa!” seru Elisia dengan yakin.

“Kalau begitu, aku ingin menyampaikan berita yang menyenangkan untukmu, namun lebih baiknya atau tepatnya berita gembira untuk kita.”

“Berita menyenangkan apa?” Elisia sudah tampak tidak sabar.

Ed duduk di samping Elisia. Ia menatap perempuan manis itu dengan pandangan yang tampak penuh semangat. Dengan sambil tersenyum, Ed berkata, “Kita akan melanjutkan studi musik kita di Estalina, sebuah universitas musik terbaik di Eviania! Bahkan waktu pesta perpisahan nanti kita memainkan musik bersama-sama, bukankah itu mimpimu? Kita akan melakukannya!”

Mendengar apa yang disampaikan oleh Ed, Elisia tersenyum, namun binar matanya berkata berbeda. Matanya tampak biasa. Wajahnya dipaksakan tersenyum. Elisia benar-benar memaksakan dirinya untuk tampak bahagia. Itu jelas terlihat oleh Ed.

“Hebat, kita bisa belajar banyak hal tentang musik di sana! Aku sudah tidak sabar!” ucap Elisia.

Ed yang memperhatikan Elisia, jelas mengetahui ada yang berbeda dengan perempuan itu. Ia tampak memaksakan diri untuk bahagia. Jelas ada sirat kesedihan yang disembunyikan di balik wajah manisnya itu.

“Elisia, kau…tidak apa-apa, bukan?” tanya Ed khawatir.

“Ya, aku tidak apa-apa! Memangnya aku terlihat apa? Sakit?”

Ed menggeleng, “Tidak, aku merasa kau tampak berbeda dari biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang kau rahasiakan hingga kau tampak sedang memaksakan diri.”

Elisia diam. Ia berpikir sejenak.

“Aku memaksakan diri? Namun, untuk apa? Kupikir tidak. Mungkin perasaanmu saja.”

Ya, semoga itu. Harapan itu adalah harapan Ed yang tak ingin melihat perempuan terdekatnya itu sedih. Apalagi kabar tentang beasiswa itu, semestinya mampu mengibarkan semangat baru dan harapan baru untuk menjadi lebih baik.

“Oh, Lis! Bagaimana kalau kita rayakan keberhasilan kita ini dengan makan malam sambil mendengar satu instrumen musik yang menyenangkan? Apa kau setuju?” ajak Ed.

“Tentu!” seru Elisia senang.

“Kalau begitu, sepulang sekolah aku akan membeli bahan-bahan untuk dimasak. Kita harus merayakannya di flat. Tak semestinya kita membuang banyak uang demi makan di restoran mahal, bukan!”

“Iya iya!”

“Baik, kau pulang terlebih dahulu. Jadi, kau bisa mempersiapkan semuanya, ok!?”

Elisia mengangguk.

***

Waktu berputar sesuai aturan yang ia ikuti. Tak menunggu hingga akhirnya lonceng besar sekolah berdenting menandakan bahwa waktu untuk berlama-lama di sekolah usai. Semangat Ed terbakar hebat. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke pasar membeli bahan makanan.

Di depan pintu gerbang, Elisia sedang berdiri sendiri. Ketika Ed datang dengan berlari menghampirinya. Perempuan manis itu tersenyum sebagai tanda bahwa ia telah menantinya lama.

“Sudah siap, Pangeran!” ucap Elisia memberi semangat.

“Ini!” Ed memberikan kunci flat pada Elisia.

“Kalau begitu, aku pulang duluan ya, Ed.”

“Ya, tunggu aku ya!”

“Mm!” Elisia mengangguk.

“Baguslah, aku akan segera pulang.”

Sambil tersenyum, Elisia pergi saat satu kedipan mata tak sengaja membuat getar di dalam hati Ed. Setelah itu, langkah kaki dimulai. Elisia menjauh di mana Ed terpaku diam merasakan ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya, sesuatu yang tak pernah ia lihat, ia rasakan. Getaran itu terjadi saat Ed melihat ada cercah kristal yang ia tahu sebagai air mata. Ya, air mata yang tampak jelas di mata Elisia yang berusaha bersembunyi. Mungkin, itu hanya perasaan saja.

Penuh semangat dan harapan, Ed membeli apa yang dibutuhkan untuk membuat masakan enak nanti malam. Tentunya haruslah berbeda.

Setiap jalan yang Ed lewati tampak berbeda jika hati sedang bahagia. Benar-benar tampak seperti pangeran yang apa saja maunya dilayani dengan baik. Selain itu, setiap orang yang dilewati seolah tersenyum menghormatinya. Daya hayal atau fantasi itu adalah cipta dari perasaan yang memang bisa memandu manusia menjadi lebih baik dan menghadapinya dengan positif. Itulah kekuatan kebahagiaan yang bersembunyi dari satu alasan sebuah kebahagiaan. Bayangkan jika kebahagiaan itu adalah sesuatu yang lebih besar dan tak terukur, tentunya Ed akan merentangkan sayapnya dan ia akan tampak seperti malaikat putih yang menebarkan hatinya yang merona merah penuh bahagia.

Semua check list belanjaan sudah terconteng. Tak ada yang terlewatkan. Kini waktunya pulang.

Ed tiba di depan flatnya. Namun, ia tampak heran dengan banyaknya mobil-mobil berkelas parkir di depan flatnya. Ed penasaran. Ia bergegas berlari menuju flatnya. Namun, tiba-tiba sekelompok orang dengan jas hitam mencegatnya.

“Hei! Apa-apaan ini!!?”

“Kau dilarang masuk!” perintah mereka.

“Yang benar saja! Itu flatku! Aku berhak untuk masuk ke sana!! Kau tak berhak melarangku!!!” bentak Ed marah.

“Maaf!! Ini perintah!”

“Perintah apaan!!?”

Ed tambah bingung dan ia terus mencoba mendesak para penjaga berbadan besar itu. Namun, Ed tak kuasa. Ia didorong hingga terjatuh ke dasar.

“Ini gila!!” Ed kembali berdiri.

Tiba-tiba ada seseorang dengan kemeja putih berdasi putih menghampiri dua orang berbadan besar dengan jas hitam itu. Si pemuda berdasi itu berbisik pada dua orang itu. Ed menunggu.

“Baiklah! Kau diizinkan masuk.”

Tidak membalas perkataan, Ed berlari melintasi beberapa orang yang ramai berkerumun. Saat di depan pintu, ia langsung membukanya dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat adanya orang penting dan terhormat di flatnya itu.

“Eli…sia…?” gumam Ed di mana jantungnya serasa berhenti.

“Jadi kau yang bernama Edward?” tanya seseorang yang sangat aku kenal lewat media. Tak lain dan tak bukan ia adalah Raja Eviania Yang Agung.

“Ba..ginda…?”

Ed tampak ling-lung.

“Ehm, jadi kau yang selama ini menemani putriku.”

“Putri?” gumam Ed dalam hati tak mengerti.

Ed memandang kepada Elisia yang diam membisu. Pipinya basah. Dan ia sedang dirangkul oleh Ratu Agung Eviania.

“Jadi, Elisia!?”

“Ya, Elisia adalah Putri Eviania. Ia melarikan diri dari Kerajaan. Sudah lama kami mencarinya dan akhirnya berhasil menemukannya.” Jelas Raja.

“Tapi, jika ia memang seorang Putri, kenapa ia harus melarikan diri? Bukankah hidup di istana itu lebih baik?”

“Masalah itu, kau tanyakan sendiri pada Elisia.” Ucap Raja.

Ed bergegas menghampiri Elisia. Ia memandang gadis yang tampak hampa itu. Hati Ed bergetar hebat. Matanya sudah tak bisa memendung air mata yang ingin menetes.

“Elisia…apa benar kau adalah Putri Eviania…? Bukankah kau ingin menjadi seorang putri? Bukankah itu adalah satu dari impianmu? Jika iya, kenapa kau harus lari untuk cita-citamu?” tanya Ed dengan lembut.

Elisia diam saja. Ia tak sedikit pun menoleh, memandang Ed saja tidak. Ia tampak seperti boneka yang tak bernyawa.

“Elisia…”

Ed berdiri, ia menarik nafasnya dan menghembuskannya. Wajahnya kini tampak berbeda. Ia mulai murka.

“Kalian semua!! Apa yang kalian lakukan pada Elisia!!?” bentak Ed.

Semuanya terkejut.

Ed menghampiri Raja dan menarik kerah bajunya hingga menggemparkan seluruh penjaga Raja, dan mereka mengeluarkan senjata api yang mengarah pada Ed.

“Kau adalah seorang Ayah! Kenapa kau membuat Elisia – putrimu diam seperti boneka tak bernyawa!!? Apa kau ingin membunuhnya!?”

“Lepaskan Baginda Raja, Sekarang!!” perintah salah satu penjaga.

“Ed…” gumam Elisia memanggil.

Sontak, Ed melepaskan Sang Raja dan Elisia berdiri – lepas dari rangkulan Sang Ibu.

Ed langsung memegang pipi Elisia dan memeriksa keadaannya dengan seksama.

“Kau kenapa? Kau tampak pucat? Kau begitu sedih? Kau tampak sakit? Katakan, ada apa sebenarnya, Elisia?”

“Aku, aku tidak apa-apa, Ed. Aku tak pucat, aku tak sedih,dan aku tidak tampak sakit. Aku senang, aku bahagia, aku gembira, dan aku tak tahu harus berucap apa.”

“Sudahlah!” potong Ed, “Aku tahu kau bahagia, kau senang, namun tetes air matamu berkata berbeda. Itu, bukanlah air mata kebahagiaan seperti harapanku, namun lebih tampak sebagai air mata kesedihan untukku. Tak baik ronanya untuk lagu-lagu kehidupanmu, apalagi aku.”

“Baiklah Ed, akan kukatakan sebuah harapan yang menjadi rahasia yang mesti kubuka untuk harapanmu.” Ucap Elisia sambil tersenyum.

“Rahasia? Harapan?”

“Ini.”

Elisia memberi sepucuk surat kepada Ed.

“Baca ini setelah aku pergi. Dan, mengertilah…”

Diam bibir tak bergerak, redup sinar harapan menyibak kebahagiaan yang pelan-pelan pudar. Elisia, berjalan tak menatap, pergi meninggalkan Edward.

Gadis manis berdarah biru itu berjalan bersama Ayah, di mana ia juga memanggil ibunya. Ed diam, ia terus diam memperhatikan kepergian Elisia, sang maestro hatinya. Ed tak bisa berbuat apa selain diam. Ia bungkam.

Ketika itu, Elisia terus berjalan hingga memasuki kendaraan mewahnya. Di saat itulah Edward berdiri, hanya mampu memperhatikannya dari jauh. Ed, terjatuh, atau mungkin tak tahu. Namun, rahasia apa yang sekuat itu mampu merobohkan harapan besar sang pencinta suara itu.

Kini, keluarga terhormat itu telah pergi. Elisia pun sudah pergi.

Kini, jalanan pun tampak sepi. Flat itu pun juga sudah sepi.

Hanya sepucuk surat di tangan kanan yang bergemetaran. Di dalam hati, perih menahan luka. Jika ia adalah malaikat, sudah tentu seperti malaikat yang sayapnya terpotong dan dibuang di jurang yang gelap. Sakitnya tentulah sangat sakit.

“Elisia…”

 

Bersambung

 

N.R. ISWAHYUDHI
Posted by Yudhi in 15:58:12 | Permalink | Comments Off

Monday, August 4, 2008

Elisia (Part 3: The Dust of Elisia)

Elisia, gadis misterius yang dibawa oleh Edward ketika pulang dari Mezena. Kini, Elisia pergi ke Litinia dengan ditemani oleh Edward. Dengan bantuan Edward, Elisia bisa bersekolah di Litinia.

Elisia sangat bahagia mendengar bahwa ia akan mulai masuk sekolah besok. Untuk itu, Ed membawanya ke pusat kota untuk membeli sedikit pakaian, karena Elisia hanya memiliki pakaian di badan. Selain itu, ia hanya bisa menggunakan pakaian Ed untuk sementara waktu.

Di pusat kota, Ed membelikannya beberapa setel pakaian sehari-hari dan satu seragam lengkap sekolah. Hal itu tentunya menguras separuh tabungan Ed yang selama ini sudah susah payah ditabungnya. Tapi, demi Elisia yang ingin mengejar mimpi, tak ada salahnya jika mengulurkan tangan sedikit, semampunya.

Sekarang, Elisia sudah tidak sabar untuk bersekolah esok. Ia tampak gelisah saat tiba di flat. Ia juga meminta izin agar memainkan beberapa lagu dari piano milik Ed. Tentu saja Ed memperbolehkannya.

“Kau ingin memainkan musik klasik lagi? Kali ini karya siapa?” tanya Ed sambil menghampiri Elisia yang sudah duduk menghadap piano.

Paganini, Sonata Concerta.” Jawab Elisia.

“Apa? Paganini? Bukankah lagu itu adalah lagu yang dimainkan dengan biola?” Lagi, Ed heran.

“Tidak ada salahnya, jika aku memainkannya dengan piano, bukan?”

Bagi Ed, itu tidaklah wajar. Jika Elisia melakukan itu, itu sama saja dengan tidak menghargai sang komposer lagu itu. Seperti apa yang ia lakukan pada musik karya Beethoven. Itu tidak wajar, namun ia mampu menunjukkan bahwa ia bisa memainkannya dengan instrumen yang berbeda, dan tentunya tidak ada nada yang salah atau tertinggal. Tidak pernah Ed menemukan pemain musik seperti ia sebelumnya.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Elisia melihat Ed yang sedang melamun.

“Oh, tidak! Aku tidak apa-apa.” Ujar Ed sambil kembali ke kursi untuk duduk.

“Tapi, jika kau ingin memainkan musiknya bersamaku, aku akan senang sekali!” seru Elisia mengajak.

Ed memang tahu lagu itu. Itu adalah lagu yang menyenangkan, penuh jenaka dan kebahagiaan. Musik itu pantas dimainkan saat itu sebagai bentuk perayaan di mana Elisia akan pergi ke sekolah esok.

“Ayolah, Ed!” ajak Elisia.

Ed tidak sanggup menahan rayuan Elisia. Jadi, ia memutuskan untuk mengambil biolanya dan kembali berdiri di dekat Elisia.

“Aku hanya mengiring permainanmu saja ya!”

“Ah, tidak!” Ed tidak setuju, “Kau yang ingin memainkannya, jadi biar aku saja yang memainkan musik pengiringnya.”

“Tidak mau!” Elisia bersikeras.

“Ya sudah, begini saja. Kita mainkan bergantian bagaimana?”

Elisia berpikir sejenak, dan, “Baiklah! Tidak buruk!”

Musik yang jenaka karya Paganini itu dimulai oleh Elisia, kemudian diikuti oleh Ed. Pelan-pelan mereka memainkannya secara bergantian. Suara biola dan piano saling bersahutan layaknya lantunan-lantunan puisi yang diucapkan oleh Romeo kepada Juliet di balkon, saling berbalas, dan begitu penuh dengan romansa cinta. Hanya saja, pada hal ini, musik yang bersahutan itu adalah suara kebahagiaan, suara yang memiliki arti senyuman, suara yang menginginkan permainan. Jenaka seperti anak-anak yang sedang kejar mengejar. Begitulah mereka mengekspresikan permainan mereka hingga pada akhirnya berhenti dengan memainkan musik itu bersama-sama. Akhirnya ditutup dengan sapaan senyum dari bibir mereka berdua.

“Menyenangkan sekali!” seru Elisia.

“Ya, menyenangkan.” Ed setuju.

“O ya, Ed, apakah kau bisa memainkan piano?” tanya Elisia.

“Tentu, tapi tidak begitu mahir seperti kamu.”

Elisia tersipu malu. Pujian itu membuat wajah Elisia merona merah.

“Bagaimana kalau kita mainkan satu musik lagi?” ajak Elisia.

“Tidak.” Jawab Ed tegas.

“Kenapa?”

“Ini sudah larut, kau harus tidur. Besok pagi kita mesti pergi sekolah, sepulangnya kita mesti mencari uang. Jadi, jaga kondisi dengan istirahat!” perintah Ed.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi!”

Ed menarik tangan Elisia. Ia membawanya ke kamar.

“Kau gunakan kamarku. Aku bisa tidur di ruang tengah. Jadi, kau istirahatlah!”

Ed menutup pintu sebelum gadis itu mulai berbicara lagi. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikan pembicaraan. Jika diteruskan, bisa-bisa sampai pagi akan terus saling berbicara satu sama lain. Itu tidak akan menyenangkan, bukan?

***

Awal mula yang cerah, Elisia pergi ke sekolah bersama Ed. Semua tampak biasa, bahkan hingga di dalam kelas di mana Elisia memasuki kelasnya. Ya, Elisia dan Ed memang berbeda kelas, namun mereka selalu saling bertemu pada waktu istirahat.

Di taman sekolah, Ed sedang duduk sendiri menikmati makan siangnya yang hanya berupa roti. Dengan buku partitur dipangguannya, ia tak hentinya mengangguk-angguk seolah sedang mendengarkan musik, padahal mulutnya sedang penuh dengan roti.

“Ed!!” teriak Eva menghampirinya.

“Eva!?” Ed terkejut.

Eva langsung duduk di sampingnya di mana ia tampak terengah-engah.

“Kenapa kau pergi tanpa aku? Padahal aku menunggumu di kelas tadi.” Keluh Eva.

“Oh, maaf. Aku memang tidak berencana menikmati waktu istirahat ini bersama siapapun.”

“Lalu, artinya kau tak ingin aku ada di sini?” Eva memastikan.

Sontak saja Ed bingung. Ia menaruh rotinya.

“Oh, tidak, tidak, bukan begitu, aku hanya tak merencanakannya saja.”

Wajah Eva tampak cemberut, walau sebenarnya ia kecewa. Namun, kenapa ia tampak cemberut itu tidak rasional.

“Ya, sudah! Aku pergi!”

Eva pergi tanpa memberi salam. Sedikit menolehkan kepala saja tidak. Dengan terpaku, Ed sendiri jadi merasa bersalah. Mungkin ada kata-katanya yang salah hingga menyinggungnya, namun apa?

Plak! Kedua mata Ed ditutup tiba-tiba oleh seseorang. Ed pun mengatur nafasnya. Ia tampak tahu siapa yang sedang menutup kedua matanya.

“Elisia, kau tidak harus menutup kedua mataku jika ingin membuat kejutan. Cukup kau berteriak tiba-tiba saja. Itu lebih berhasil.” Ucap Ed.

Benar, itu Elisia. Ia bergegas melepas tangannya dan bergegas duduk di sampingnya. Ia memperhatikan buku partitur yang sedang dibaca oleh Ed.

“Itu, Rachmaninoff, Six Pieces, Op. 11 – Schezo, bukan?” tanya Elisia.

“Iya, memangnya kenapa?”

Elisia memandang Ed dengan sinis, penuh curiga.

“Sejak kapan kau menyukai instrumen piano?” tanyanya.

“Eh? Piano?” Ed tampak bingung.

Elisia mengangguk-angguk.

“Iya, Rachmaninoff adalah komposer di mana setiap musiknya dimainkan dengan piano. Apalagi yang judulnya Six Pieces, Op.11 – Schezo.”

“Aku hanya membayangkan apa bisa musik ini dimainkan dengan biola.” Tanggap Ed.

“Itu tidak mungkin, musiknya terlalu cepat, sangat sulit jika dimainkan dengan biola.” Ungkap Elisia.

Ed menghabisi rotinya. Ia meneguk air mineral yang ada di dekat tas biolanya. Sekarang ia tampak lega.

“Apa kau ingin mencobanya?” tanya Ed.

“Mencobanya? Maksudmu?”

Elisia tampak gelisah.

“Kita ke ruang piano, kau dan aku akan memainkan musik ini, bagaimana?”

“Tapi, aku tidak begitu mahir memainkannya.”

Elisia tertunduk.

“Sudah! Tidak apa-apa!”

Ed menarik tangan Elisia dan mereka berdua pergi ke ruang piano. Elisia duduk dan siap dengan pianonya, dan Ed pun sudah siap dengan biolanya.

“Kita mainkan musik ini dengan bersahutan, bagaimana?”

“Ba, baik.”

Piano berdenting lembut pada awalnya, kemudian terdengar lantang dan cepat. Di tengah-tengah, Biola menyahutnya dengan lembut, pelan, penuh perasaan, namun dikejutkan dengan nada-nada yang berganti cepat dan nadanya naik menjadi lantang.

Keduanya tampak bergantian, bahkan menempatkan diri kapan menjadi musik latar dan pencipta nada-nada utama.

Elisia dan Ed tampak begitu kompak, bahkan suara permainan mereka sampai terdengar oleh siapa saja yang melintas. Mereka semua menonton di balik jendela dan dari kaca pintu. Mereka semua terbawa oleh permainan yang begitu tampak menakjubkan. Pada akhirnya, musik itu ditutup dengan begitu lembut.

Saat Elisia dan Ed menyudahi permainan mereka, mereka berdua terkejut dengan jumlah penonton yang begitu banyak. Riuh tepuk tangan pun memecah hening di akhir suara-suara merdu itu. Itulah awal pertunjukkan Elisia dan Ed di sekolah itu. Pada awalnya, Ed hanyalah siswa pasif yang tak begitu ingin memainkan musik di sekolah, namun untuk pertama kalinya, Ed melakukannya dan itu menciptakan sebuah senyum bagi semua orang.

***

“Sepertinya semua orang sudah pergi, El.” Ucap Ed sambil membuka pintu dan melihat sekeliling.

“Dan bel masuk sudah berdenting.” Sambung Elisia. Ia berdiri dan memandang Ed yang sedang bersandar di tembok.

“Ya, sudah waktunya jam pelajaran dimulai. Kau harus masuk kelas, bukan?”

Elisia menghampiri Ed dan ia memberi senyum manis pada Ed.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu!” seru Ed sambil mendekatkan wajahnya pada Elisia. Hebatnya jaraknya begitu dekat.

Spontan saja, wajah Elisia memerah. Ed terpaku. Mereka berdua saling memandang dan itu menggetarkan hati. Ed tampak pangling, namun jelas ada sirat rona cinta tampak dari matanya.

Elisia melangkah mundur sambil membuang wajah. Ed terkejut dan Elisia tertawa kecil. Ed bingung dengan sikap Elisia yang tampak malu dan sedang menyembunyikan tawa.

“Kau ini!” seru Ed.

“Baiklah, Ed. Aku masuk dulu, kapan-kapan kita main bersama lagi.”

Elisia pergi meninggalkan ruangan.

Kini, ruangan itu terasa sunyi, hampa sekali. Ed merenung. Ia menyadari ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya.

Ia mendongak ke atas – memikirkan sang bidadari yang telah ia selamatkan, Elisia.

“Kau luar biasa,” gumam Ed dalam hati, “Entah siapa kau sebenarnya, namun kau tampak begitu berbeda jika kau bersama piano. Tampak debu-debu kristal dirimu merasuk ke dalam nadi-nadiku, ia mengalir di dalam darah dan terpompa rapi di dalam jantung, padahal aku hanya sekejap mengenalmu, namun kau memberiku warna baru dalam kisahku. Semoga mimpimu menjadi nyata wahai gadis misterius…”

***

Sejak itu, Ed dan Elisia banyak menghabiskan waktu bersama. Elisia menjadi pengumpul uang di mana Ed sedang memainkan biolanya di Ern Li Fach. Pada malam hari, mereka berdua melakukan pertunjukkan pada restoran di jalan yang sama, Ern Li Fach. Menakjubkan, beberapa minggu kemudian mereka menjadi cukup terkenal, bahkan pemilik restoran itu merasa senang sekali. Untuk itu, penghasilan mereka dinaikkan. Betapa bahagianya Ed dan Elisia pada masa itu.

Usai di restoran, kini, di bawah taburan bintang-bintang yang selalu memberi sinar tanpa lelah, Ed dan Elisia duduk menunggu kereta terakhir.

“Ed…” panggil Elisia.

“Ya?”

“Terima kasih, aku merasa bahagia sekali. Aku bahagia dengan apa yang telah kau berikan untukku selama ini.”

“Itu tidak perlu, cukup dengan melihatmu tersenyum, itu lebih dari cukup. Melihatmu tersenyum, aku merasa bisa mendengar denting-denting pianomu yang merdu.”

Elisia memandang langit yang penuh dengan bintang-bintang, dan heningnya malam membuat dingin terasa menusuk-nusuk ke dalam tubuh, ia tampak menikmati suasana malam.

“Jika aku menjadi seorang putri, bagaimana menurutmu, Ed?”

“Eh? Putri?”

“Ya, waktu kecil aku memimpikan untuk menjadi seorang putri. Rasanya nyaman sekali. Aku bisa memiliki apa saja, apa saja permintaanku akan dikabulkan. Bukankah itu menyenangkan dan nyaman sekali, bukan?”

Ed diam saja.

“Tapi…aku juga ingin menjadi seorang pianist. Itu tampak realistis bagiku, namun sulit untukku. Berbeda dengan menjadi seorang putri yang tampak lebih sederhana, bahkan lebih mudah.”

“Menjadi putri atau pianist adalah mimpi yang indah, luar biasa, dan tak biasa. Namun, jika tentang realistis, bagiku lebih tampak realistis menjadi pianist daripada menjadi seorang putri. Untuk menjadi seorang putri, kau mesti berdarah bangsawan atau kerajaan setidaknya. Sebenarnya menjadi seorang putri tidaklah harus ada di singgasana di mana putri biasanya duduk, tapi adalah ada di dunianya sendiri. Dan untuk dirimu, singgasana itu ada pada musik, ada di jari-jarimu, dan ada di dalam imajinasimu.” Ungkap Ed, “Lalu, kau bisa meraih dua mimpi dalam satu genggaman. Bukankah, itu lebih menyenangkan?”

“Jika harus memilih, maka, apa yang akan kau pilih, Ed?” tanya Elisia sambil memandang Ed yang sedang memandangi bintang-bintang.

“Jika aku harus memilih? Entahlah,” jawab Ed tidak tahu, “Mungkin aku akan mencari yang nyaman untukku. Ya, seperti sekarang, menjadi violinist. Itu membuatku merasakan arti kehidupan.”

“Bukankah itu sulit?”

“Hidup memang sulit, tapi kita tak harus mempersulitnya, bukan? Jalani sesuai apa tujuanmu, terus seperti itu, maka, hidup itu lebih baik, dan aku menikmatinya, kadang puas sekali!”

Ed menunduk dan Elisia membisu. Mereka saling diam.

Saat angin bertiup, pelan-pelan Elisia menyandarkan kepalanya di bahu Edward. Edward memandang gadis itu dengan seksama. Tampak manis baginya. Untuk itu, Ed mengusap rambutnya yang lembut.

“Selamat tidur…” gumam Ed berbisik.

Bersambung

N.R. Iswahyudhi
Posted by Yudhi in 09:59:01 | Permalink | Comments (1) »

Monday, July 28, 2008

Elisia (Part 2: Lost in Verenia)

Suara menggema hebat di telinga. Sahutan-sahutan instrumen-instrumen musik bergantian terdengar jelas. Takjub perasaan merona merah, membuat wajah merah hingga mata seolah tak ingin berkedip sedikit saja. Perkusi yang menggetarkan jantung membuat penontonnya penuh dengan rasa kagum.

Edward, ia duduk seperti dikutuk oleh Mezena. Fe Athea yang mampu membuatnya diam penuh ketegangan membuat gadis cantik – Evalin terus memandangi wajah Ed – hingga akhirnya, riuh tepuk tangan mengejutkannya di mana Ed berdiri bertepuk tangan dengan penuh semangat. Kemudian, musik berikutnya dimainkan hingga ia lupa bahwa semuanya akan segera berakhir.

Pertunjukkan usai. Riuh tepuk tangan kembali menghujani para pemain musik Fe Athea. Sambil tersenyum, Ed bertepuk tangan. Hatinya sangat puas dengan pertunjukkannya. Usai itu, satu persatu penonton keluar dari Mezena.

“Sudah pukul berapa?” tanya Eva pada Ed.

“Ini sudah lewat dari tengah malam.”

Ed melihat jam tangannya.

“Hebat ya, walau sudah larut, tempat ini masih ramai!” ungkap Eva sambil melihat ke sekeliling masih ramai.

“Itu karena mereka ingin melihat Raja dan Ratu Eviania. Mereka tidak akan segera pulang sebelum bisa melihat mereka.”

Ed menunjuk pada kerumunan orang yang ingin sekali melihat keluarga Kerajaan Eviania.

“Tapi, tidak semua ingin, bukan?” sanggah Eva.

Ed hanya tersenyum, kemudian ia menyuruh Eva untuk menunggunya sebentar di tempat ia berdiri. Ia tak boleh beranjak.

“Kau mau ke mana?” tanya Eva.

“Tunggu saja, sebentar!”

Setelah beberapa menit, setangkai bunga mawar putih muncul tiba-tiba di hadapannya. Rupanya Ed membelikannya diam-diam. Itu alasan mengapa ia pergi sejenak.

“Mawar cantik ini untukmu.”

Sambil tersipu-sipu, Eva menjawab, “Terima kasih.”

“Sudahlah, ayo kita pulang!” ajak Ed.

“Tapi aku lapar, bagaimana jika kita mampir makan dulu?”

“Apa kau gila? Ini sudah larut! Aku khawatir ayah dan ibumu sudah menunggumu dari tadi di rumah.”

“Tidak! Aku ingin makan!” Eva bersikeras.

Dasar perempuan manja! Kelakuannya tidak berubah walaupun sudah selarut itu. Ed tidak habis pikir kenapa ia bisa begitu biasa saja, santai sekali.

“Begini saja, kita beli makanan kecil, dan memakannya sambil jalan, bagaimana?”

“Setuju!” serunya sepakat.

Ed dan Eva pergi ke restoran terdekat. Mereka berdua memesan kentang goreng saja. Itu agar mereka bisa menikmatinya sambil jalan.

Dalam perjalanan, Ed dan Eva saling tertawa, bercanda, dan kadang-kadang mereka bergandengan tangan. Mereka menikmati malam dingin dengan senyuman. Seolah mereka terbang bersama mengitari malam, ditemani bintang-bintang. Mereka bagaikan kekasih, namun kenyataan mereka adalah sahabat. Namun, getar-getar cinta tampak tumbuh di dalam mata sang bidadari. Tapi, apakah ada kesadaran di dalam diri Ed tentang cahaya cinta yang ada di dalam mata sahabatnya? Hanya waktu yang bisa menjadikannya nyata atau hanya bias saja kelak.

***


Ed dan Eva tiba di depan pintu gerbang kediaman Eva.

“Apa kau ingin masuk?” ajak Eva.

“Yang benar saja? Ini sudah lewat tengah malam. Bisa-bisa aku diusir orangtuamu.”

Eva tertawa sambil menutup mulutnya. Kemudian, ia menghela nafasnya sambil memandang bintang-bintang di langit sejenak.

“Baiklah, Ed. Ketemu lagi nanti di sekolah!”

“Ya.”

Eva masuk dan berlahan-lahan perempuan anggun dengan gaun putih itu hilang di hadapan Ed. Ketika pintu tertutup, maka itulah ketika Ed akan berbalik badan, berjalan meninggalkan rumah megah seperti istana di mana sahabatnya tinggal.

***


Kini, Ed sudah hampir tiba di flatnya. Tapi, di tengah-tengah jalan yang sepi dan dingin, Ed dikejutkan dengan sosok perempuan yang tergeletak bersandar pada tiang lampu jalan. Melihat itu, Ed langsung berlari menghampiri perempuan itu.

“Hei!?”

Ed langsung memeriksa keadaan perempuan itu. Ia merasakan hawa panas di tubuh perempuan itu, dan benar, tubuhnya panas. Lalu, kemudian ia periksa kakinya. Kakinya dingin sekali. Wajahnya tampak pucat.

Ed melihat ke sekeliling, namun tidak ada satu orang pun. Benar! Tentu saja tidak ada, karena itu sudah lebih dari sekedar larut. Siapa yang mau berjalan di malam menjelang subuh seperti itu. Karena tidak bisa menemukan pertolongan, Ed terpaksa membawanya ke flatnya tinggal. Ia menggendongnya.

Pikir Ed, flatnya sudah tidak cukup jauh. Jika dirawat segera, mungkin ia bisa segera siuman. Mungkin gadis itu hanya pingsan saja.

Di jalan sepi, Ed membawanya bergegas ke flatnya. Setiba di flat, Ed menyandarkan perempuan bergaun merah itu di tembok – di samping pintu masuk. Ed membuka pintu dengan kunci cadangannya, lalu menggendong perempuan itu ke kamarnya. Ed membaringkannya.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” Ed bingung awalnya, namun ia tahu apa yang harus ia perbuat. Ia menyiapkan air hangat dan air dingin. Air dingin digunakan untuk mengompres kepalanya yang panas, dan air hangat untuk mengompres kakinya yang dingin.

Ed menjaga perempuan itu. Ia duduk di samping tempat tidur. Di sela kantuknya, Ed tersenyum saat memperhatikan wajah pucat perempuan itu. Ia memiliki rambut panjang berwarna kuning keemasan terurai di atas bantal putih. Namun, pelan-pelan Ed akhirnya tertidur juga. Ia terbaring di dekat tangan kiri perempuan itu.

***


“Hei…”

“Hello…”

Sapaan lembut terdengar kecil di telingga Ed. Tak lama, sebuah belaian hangat menyentuh kepalanya. Pelan-pelan mata Ed terbuka.

Saat mata Ed terbuka, ia langsung bangkit tiba-tiba.

“Kau!?” Ed terkejut dan panik saat melihat perempuan yang ditolongnya sudah bangun, bahkan sempat membelainya,

“Sudah bangun…?”

“Iya.” Ucapnya sopan.

“Oh, aku hampir saja jantungan.” Gumam Ed sambil mengelus dadanya.

“Memangnya kenapa?” tanya perempuan itu.

“Kau terbaring di bawah lampu jalan, saat kuperiksa,tubuhmu panas sekali. Lalu, aku bawa kau ke rumahku untuk dirawat.”

“Jadi begitu…”

Perempuan itu tertunduk. Ekspresi wajahnya yang ceria berubah menjadi sedih. Ia tampak tak bersemangat, seperti ada masalah yang menyelimutinya.

“Kau tidak apa-apa?” Ed memastikan.

“Aku pikir, aku akan hilang di sana.” Ucapnya.

“Kau ini, jangan asal bicara. Kata-kata itu bisa menjadi doa.”

Ed berdiri dan ingin keluar dari kamar.

“O ya,”

Ed berhenti berjalan, “Namamu siapa?”

“Elisia.” Jawabnya malu-malu.

Ed berbalik sambil tersenyum. Lalu ia berkata “Aku Edward, jika kau sudah agak baikkan, keluar dan sarapanlah! Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.”

Ed keluar dari kamar meninggalkan Elisia.

***


Ed sudah selesai menyiapkan sarapan pagi. Ia mengambil biolanya. Ia memandangnya sejenak. Lalu, ia memutuskan untuk memainkannya sebentar.

Pelan-pelan, biola bersandar di bahu. Ed menghela nafas panjang sambil memejamkan mata. Kemudian, ia membuka matanya pelan-pelan. Ia mengatur nafasnya dengan baik. Sambil tersenyum ia memainkan biolanya.

Suara jenaka terdengar jelas. Nyaring dan lembut suara itu tercipta dari dawai-dawai biola. Nada-nadanya tiada yang salah, nada-nadanya selalu membawa siapa saja yang mendengarnya ingin terbang, seolah memiliki sayap, merona putih dengan cahayanya menyibak pagi yang terasa kelam. Itulah sebuah lagu pembuka pada pagi hari yang akan membuat senyum siapa saja yang mendengarnya.

Seorang perempuan di dalam kamar terdiam mendengar alunan-alunan indah dari biola Edward. Sang perempuan merasa tenang mendengarnya, namun ia juga merasa ingin tahu siapa yang memainkannya. Karena, ia tahu musik itu adalah musik yang tidak asing baginya. Ia berdiri, dan bergegas menuju pintu. Pelan-pelan, ia membuka pintu. Ia mengintip dari sela yang terbuka. Betapa terkejutnya hati ketika ia melihat Edward sedang memainkan biola.

Edward tampak tampan, berwibawa, dan seperti seorang kesatria bersayap putih. Seolah ia merentangkan sayapnya di bawah sinar surga yang menyelinap masuk di dalam ruang kecil itu.

Hati Elisia bergetar. Ia tahu bahwa ia suka dengan apa yang didengarnya. Pelan-pelan pintu dibuka. Jelas tampak Edward tak memperhatikan jika Elisia sedang memandangnya. Ya, memandangnya sambil tersenyum di mana matanya terpaku pada Edward dengan biolanya.

Di akhir permainannya. Edward menutupnya dengan sangat lembut, cepat, dan mempesona.

Ed menghela nafasnya, dan ketika ia membuka matanya. Ia melihat Elisia berdiri memperhatikannya penuh dengan keseriusan.

“Elisia…?” gumam Ed bingung memperhatikan Elisia yang membatu seperti patung. Ia seolah terkena kutukan dari musik yang baru saja dimainkan.

“Kau, violinist?” tanya Elisia.

“Belum bisa dikatakan begitu, karena aku masih belajar.” Jawab Ed.

“Tapi, permainanmu luar biasa! Bagus sekali!” seru Elisia senang, “Jarang aku mendengar permainan biola yang indah seperti itu sebelumnya.”

“Kau terlalu berlebihan.” Ed menyangkal sambil menaruh kembali biolanya di dalam hardcase, namun tak ditutupnya.

“Bukankah, musik klasik yang baru saja kau mainkan adalah Bach, Prelude from Partita No. 3?” tanya Elisia lagi.

“Ya, tapi dari mana kau mengetahuinya? Apakah kau juga seorang pemain musik?” tanya Ed heran.

“Aku suka karya Bach. Makanya, itu, aku, aku…”

Saat Elisia menoleh ke sebelah kiri, ia terdiam, ia melihat sebuah piano ada di ruangan itu. Ia menghampiri piano itu. Ia memperhatikan setiap sisinya.

“Apakah ini pianomu?” tanya Elisia serius. Ia tidak melanjutkan kalimatnya yang terhenti.

“Ya.”

“Apa suaranya sudah diselaraskan?”

“Ya.”

Elisia terbakar keinginannya untuk membuka penutup tuts piano. Tanpa izin dari Ed, ia membuka dan duduk di depannya.

“Hei!” Ed menghampirinya, “Apa kau ingin memainkannya?”

Elisia memandang Ed. Ia tampak ingin sekali memainkannya. Tapi, apa Elisia benar-benar bisa memainkan piano?

Gadis cantik itu diam saja. Ia memperhatikan piano itu dengan seksama. Kemudian, terdengar permintaan dari bibirnya.

“Ed, apakah kau bisa bermain biola untukku? Dan aku akan memainkan piano untukmu.”

Sontak saja Ed kaget. Ia tak menyangka jika Elisia akan memainkan sebuah musik klasik untuknya, apalagi dengan pianonya. Namun, rona wajahnya yang tampak sekali menginginkannya, telah menggugah hati Ed untuk mempersilakannya.

“Silakan, tapi lagu apa yang ingin kau dengar?”

Beethoven, Pathetique III Rondo: Allegro.” Pinta Elisia.

“Apa? Beethoven? Pathetique? Bukankah lagu itu adalah lagu yang dimainkan oleh piano saja? Tidak ada yang pernah memainkan lagu itu dengan biola.”

“Mainkanlah bersamaku, bagaimana?”

Mendengar permintaan itu, Ed pun kembali dengan biolanya. Ia berdiri di samping Elisia yang duduk siap memulai permainannya. Dan lagu itu pun dimainkan.

Piano memulai, dan biola mengiring. Edward dan Elisia memainkan dua instrumen musik yang berbeda. Mereka memadukan sebuah musik yang memberi makna tentang kesedihan. Ya, kesedihan yang tampak jelas dari nada yang terdengar.

Edward yang tak tahu apakah Elisia bisa memainkan piano atau tidak, dikejutkan dengan betapa cepat dan mahirnya ia memainkan piano itu. Walau Ed terkejut, namun ia juga menikmati permainannya, dan benar saja biola Ed menciptakan nada-nada yang sesuai, nada-nada yang mengiringi indahnya lagu kesedihan yang mungkin akan berakhir dengan kebahagiaan.

Empat menit lima puluh lima detik. Itulah waktu yang mereka habiskan bersama dalam memainkan lagu ciptaan Beethoven.

Usai lagu itu, Elisia menghela nafasnya. Ia tersenyum. Wajah sedihnya seolah disapu oleh nada-nada tadi. Edward pun turut senang melihat perubahaan dari diri Elisia. Ia merasakan hawa yang berbeda dari perempuan itu sekarang.

“Permainan yang luar biasa, Elis!” ucap Ed memuji.

“Kau juga! Kau mahir sekali bermain biolanya. Padahal, lagu tadi adalah lagu dengan permainan solo piano. Namun, kau bisa mengiringinya dengan baik.”

“Walau begitu, ada nada-nada yang tertinggal menurutku.” Ucap Ed.

“Sungguhkah!?” Elisia terkejut, “Aku tidak tahu kalau aku melewatkan beberapa nada?”

Elisia tampak malu. Namun, ia juga berpikir tidak benar bahwa ia melewatkan satu nada.

“Maaf jika, aku terlewat satu nada.” Ucap Elisia sambil menundukkan kepalanya.

Ed menghampirinya dan berbisik, “Nada yang sempurna…tak ada yang terlewat.”

Ceria adalah sebuah ekspresi wajah yang sangat ditunggu oleh siapa saja. Karena itu adalah permulaan bagaimana kebahagiaan bisa ada. Dan, di dalam bisik Edward untuk Elisia membuka sebuah keceriaan di dalam tawa, canda, yang baru saja terukir di dalam kisah hidup mereka.

***


Usai sarapan pagi. Ed dan Elisia saling duduk berdampingan. Mereka saling diam menunggu ada yang memulai percakapan. Mereka tak tahu harus bagaimana memulainya. Namun, dasar Elisia – yang akhirnya tak sabar memulai percakapan.

“Lagu yang menyenangkan!” ucap Elisia.

“Ya, menyenangkan.” Ed setuju.

“O ya, Elis. Sebenarnya, apa yang membuatmu tertidur di bawah tiang lampu jalan?”

Elisia diam sejenak. Ia mencoba memulai jawabannya dengan baik.

“Waktu itu, waktu itu aku tak tahu harus ke mana. Aku tidak punya tujuan di Verenia ini. Jadi, aku putuskan untuk istirahat sejenak di sana, namun rupanya aku sedang tidak dalam keadaan baik.”

“Sebenarnya kau dari mana?”

“Eviantia, ibukota Eviania.”

“Berarti kau datang dari kota besar, lalu kenapa kau kemari? Di sini kau tak ada tujuan, bukankah itu bisa menyiksamu, menyusahkanmu?”

“Malah sebaliknya, aku ingin sekali ada di sini. Aku lelah ada di Eviantia. Di sana aku tidak bisa bermain musik, aku tidak bisa meraih keinginanku untuk menjadi seorang pianist, kelak.” Jelasnya.

“Jadi, kau kemari hanya ingin mengejar mimpimu untuk menjadi pianist?

“Ya.” Jawab Elisia sambil mengangguk.

“Hanya karena sebuah mimpi, kau rela melepas segalanya. Aku tak percaya ada perempuan yang bisa melakukan itu semua.”

“Memang tidak semua perempuan bisa,” Elisia setuju, “Tapi setidaknya aku harus bisa.”

“Baik!” Ed berdiri, “Jika begitu, besok kau harus ikut aku ke sekolah.”

“Apa? Ke sekolah?”

“Ya! Sekolah. Kau harus sekolah untuk meraih mimpimu itu.”

“Tapi…”

Elisia bingung, apakah ia harus menerima tawaran Ed atau tidak.

“Kau harus sekolah di Litinia. Litinia adalah sekolah musik terbaik di Verenia. Kau akan diajarkan bagaimana memainkan piano lebih baik.”

“Tapi, biayanya?”

“Masalah biaya, kita akan mendapatkannya di jalan.”

“Caranya?”

“Kita akan bermain musik klasik di jalan Ern Li Fach. Itu akan menghasilkan banyak uang dan cukup untuk hidup dan biaya sekolahmu setidaknya. Untuk tinggal, kau bisa tinggal di tempatku sementara waktu, bagaimana?”

Usulan Ed itu telah memberi semangat baru pada Elisia. Dengan apa yang diusulkan oleh Ed telah membuat rona senyum baru lagi bagi Elisia.

“Terima kasih, Ed. Dengan ini, aku tidak akan tersesat lagi. Setidaknya, aku menemukan jalan setapak yang bisa menaungiku dalam cahaya harapan dan mimpi. Kau adalah kesatria, Ed!” puji Elisia.

“Kau ini!”

Bersambung

 

N. R Iswahyudhi


Posted by Yudhi in 13:36:17 | Permalink | Comments (1) »

Thursday, July 24, 2008

Elisia (Part 1: Ern Li Fach Street)

Verenia, sebuah kota yang saat ini sangat ramai dengan pendatang dari luar. Saat ini, Verenia menjadi satu kota yang dikunjungi banyak orang dikarenakan oleh kedatangan Orkestra Fe Athea, sebuah orkestra musik terkenal di seluruh negeri Eviania. Panggung utama di pusat kota Verenia, Mezena menjadi satu tempat yang akan dipenuhi oleh pengunjung hingga keluarga besar Kerajaan Eviania.

Di Jalan Ern Li Fach, di mana Mezena berada, Edward Ferlan sedang berdiri memandang Mezena. Ia diam memperhatikan bangunan tercantik di Verenia. Ia membayangkan kelak, suatu hari nanti ia bisa bermain musik di sana . Memainkan satu instrumen musik yang ia sukai, yang ia sayangi bak kekasih. Namun, ia tahu itu semua adalah hanyalah sebuah mimpi. Di kota yang disebut kota air itu, Edward melanjutkan perjalanannya ke sekolah.

Edward Ferlan sekolah di Litinia, satu-satunya sekolah musik yang ada di Verenia. Ia adalah siswa angkatan terakhir yang artinya tahun itu akan segera lulus. Ia juga merupakan siswa yang sangat mahir memainkan dua instrumen musik, yaitu biola dan piano. Namun, satu instrumen yang paling ia sukai adalah Biola. Baginya, musik adalah satu alat yang mampu membawa siapa saja bisa merasakan ketenangan, damai akan tercipta apabila ada instrumen yang dimainkan dengan benar. Sunyi dan senyum akan hadir – tercipta dengan sendirinya pada manusia. Bagaikan cinta yang jika seperti bunga yang memiliki harum, seperti itulah manusia yang menebarkan cinta, menebarkan cinta untuk dirinya sendiri.

Edward Ferlan memang bukanlah sang maestro, tapi dengan satu mimpi saja ia yakin ia bisa mengapai semuanya, termasuk cinta.

***

Edward masuk ke dalam kelas, duduk di kursi biasa di mana ia duduk mengikuti pelajaran. Ia membuka buku partitur musiknya. Namun, tiba-tiba seorang teman baiknya datang menghampiri. Ia duduk tepat di samping Edward, namanya Evalin. Gadis manis pemain obo.

“Ed, malam ini kamu ada rencana keluar?” tanya Eva.

“Tidak biasanya kau bertanya seperti itu, tapi jika dijawab tentunya rencana itu ada.” Jawab Ed sambil membaca buku partiturnya. Ia juga memainkan tangannya seperti konduktor orkestra. Mungkin sedang menghayal.

“Memangnya rencana apa?”

Ed berhenti membaca.

“Seperti biasa, menyiapkan makan malam untuk diri sendiri, memutar musik klasik, dan memainkan satu atau dua musik klasik.”

Tiba-tiba wajah Eva berubah menjadi cemberut, namun tampak senyum dari bibirnya yang halus. Melihat itu semua, Ed ingin tertawa rasanya. Saat Ed ingin melanjutkan bacaannya, Eva memberikan tiket pada Ed. Entah tiket apa itu.

Ed coba membacanya dan rupanya itu adalah tiket konser Fe Athea di Mezena. Sontak saja Ed terkejut. Harga tiket masuk di Mezena sangatlah mahal. Hanya orang-orang penting dan memiliki banyak uang saja yang bisa menikmati musik di sana.

“Kau memberiku tiket konser Fe Athea? Apa tidak berlebihan?” tanya Ed.

Eva hanya menggelengkan kepalanya. Artinya tidak.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi!” potong Eva, “Pokoknya aku tunggu di depan Mezena malam ini, ya!”

Eva langsung beranjak pergi keluar kelas.

“Hei!!” panggil Ed. Ia berdiri dan bergegas keluar mengejarnya. Tapi, ia sudah jauh. Jika berlari mengejarnya akan menjadi pusat perhatian, bahkan mungkin akan menjadi isu baru di sekolah. Ed tidak mengejarnya.

Ed kembali ke kelas dan memperhatikan tiket itu dengan baik-baik. Ia tak percaya bahwa ia akan masuk ke dalam Mezena. Ia tak pernah masuk ke dalam gedung orkestra terbesar di Verenia itu sebelumnya. Namun, jika dipikir lagi, kenapa Evalin memberikan tiket konser itu untuknya? Tiket itu harganya senilai dengan gaji satu bulannya memainkan piano di restoran ia bekerja saat itu.

Saat pelajaran berlangsung, Ed tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya pergi dalam fantasinya tentang pertunjukkan nanti malam. Selain itu, ia juga tampak senang karena Eva yang mengajaknya. Ia memang sering sekali keluar bersama dengan Eva, namun kali ini tampak berbeda. Itu mungkin saja kencan. Jika benar itu adalah kencan, tentunya akan penuh kebahagiaan. Tapi ia juga tahu bahwa itu mustahil. Karena Eva adalah teman sepermainannya sejak kecil hingga sekarang. Memang, Eva adalah putri seorang bangsawan ternama di Verenia. Berbeda dengan Ed yang hanya seorang pemuda hidup sendiri pada flat sewaan.

Ayah Ed meninggal karena kecelakaan kereta. Ibunya Edward sakit-sakitan sejak ayahnya pergi, kemudian meninggal karena sakit. Sekarang, Ed harus hidup sendiri. Ia harus mandiri dengan keterampilan yang ia miliki sebagai pianist atau violinist.
Usai jam sekolah, di depan pintu gerbang, Eva sudah menunggunya. Ia tampak polos saat menghampiri Ed. Ia begitu penuh dengan kegembiraan. Ia seperti anak-anak yang terjebak dalam tubuh seorang putri cantik.

“Pulang sama-sama ya!” pinta Eva.

“Kau ini, bukannya kau akan dijemput?”

“Tadi aku sudah bilang bahwa aku akan pulang jalan kaki bersamamu, Ayah mengizinkan kok.”

Ed hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sesekali ia menghela nafasnya.

“Baiklah, tapi ingat! Jangan…”

“Sudahlah! Ayo!” potongnya langsung menarik tangan Ed.

Dua remaja berpesta di tengah hingar-bingar Jalan Ern Li Fach. Hanya di jalan itulah yang menjadi pusat keramaian kota saat itu. Kios-kios pedagang dan kios-kios kafe baru menambah tempat bersantai di sana. Seniman-seniman manusia patung dan musisi jalanan menjadi atraksi berbeda yang bisa dinikmati. Kali ini, Ern Li Fach disulap oleh akan datangnya Fe Athea di Mezena.

“Ed!” panggil Eva, “Bagaimana jika kau juga menjadi musisi jalanan?”

Sontak saja Ed kaget, “Apa kau gila? Menginginkanku menjadi musisi jalanan? Ngamen?”

“Kau bawa biolamu dan aku bawa oboku, jadi apa salahnya jika kau menjadi musisi jalanan di sini untuk hari ini?”

“Tidak!” seru Ed bersikeras.

“Ayolah!”

“Tidak, ya tidak!”

“Ayolah!”

Kali ini Eva memohon sambil memegang tangan Ed. Ia tampak seperti anak-anak yang minta dibelikan mainan. Melihat matanya, Ed pun luluh. Ia kalah terpaksa.

Ed membuka hardcase biolanya. Ia berdiri di pinggir jalan, siap dengan biolanya.

“Kamu mau musik apa?” tanya Ed pada Eva.

Liszt, Mephisto Valse.” Jawab Eva.

Ed mulai memainkan biolanya. Liszt, Mephisto Valse. Musik solo biola yang memiliki nada jenaka, cepat, dan penuh keceriaan. Kadang-kadang musik itu melambat, lembut dan merdu.

Ed memainkan dengan mata tertutup, namun Eva memandangnya dengan senyuman yang berbeda. Tatapannya memiliki makna penuh kasih. Kepiawaian Ed, membuat bibir Eva diam, hatinya bergejolak, dan tentunya seperti kesatria berjubah hitam dengan biola merayu bunga mekar yang tak ingin dipetik.

Tak hanya Eva, semua orang berhenti berjalan, seolah Ed memanggil nama mereka satu persatu. Pesona Ed sebagai Violinist memukau.  Piawai sekali.

Saat permainan usai, riuh tepuk tangan mengejutkan Edward. Ia bingung, ia tampak linglung, bahkan para penonton melemparkan uang logam ke dalam hardcase biolanya yang terbuka. Edward malu, dan Eva tertawa.

“Tak sangka! Edward bisa memukau para pejalan kaki di sini ya!” Kagum Eva sambil membantu Ed membereskan koin-koin uang logam di dalam hardcase.

“Itu semua karena idemu.”

Eva tertawa geli lagi.

“Bukankah menakjubkan rasanya mendapatkan sambutan tepuk tangan?”

Jika dipikir sejenak, Ed memang merasakan adanya kebanggaan tumbuh di dalam hatinya. Penghargaan terhadap musikalitas dan penampilan yang baik.

Ed merenung sejenak. Jika ia bisa menjadi violinist terkenal, itu tentunya lebih menyenangkan. Cita-cita itu memang sudah lama ada di dalam benaknya. Sekarang, bagaimana menjadikannya sebuah kenyataan yang terukir di dalam kisah hidupnya.
Kini, semuanya sudah selesai. Ed dan Eva berjalan bersama-sama menuju taman kota yang tak jauh dari Mezena.

“Malam ini, sudah tak sabar menantinya!” seru Eva senang.

“Tapi, apa tidak berlebihan dengan tiket ini?”

Ed menunjukkan tiketnya.

“Kau ini!” gerutu Eva, “Seharusnya kau senang dengan ajakkanku kali ini.”

“Tapi, ini tidak biasanya, Ev. Kau tahu aku bukan?”

“Oleh sebab itu, karena aku tahu kamu, aku membelikan tiket pertunjukkan Fe Athea itu karena kau selalu memperhatikan Mezena setiap kali melewatinya. Sepertinya kau ingin sekali masuk ke sana, dan itu sudah lama sekali.” Jelas Eva.

Ed tidak menyangka kalau Eva memperhatikannya hingga hal sekecil itu. Perhatian itu berlebihan bagi Ed. Tapi, karena Eva adalah seorang sahabat yang selalu menemaninya, tak ada salahnya jika harus menerimanya.

“Sebelumnya, terima kasih!” ucap Ed.

Eva berhenti berjalan. Ed tidak pernah berterima kasih dengan siapapun, baru kali ini Eva mendengar ucapan itu dari bibir Ed. Untuk itu, Eva hanya menjawabnya dengan satu senyuman manis, dan mereka kembali berjalan bersama.

***

Langit gelap penuh dengan bintang, di bawahnya ada seseorang yang menunggu kedatangan seorang putri cantik.

Pukul 19.30 malam, Ed sudah ada di Ern Li Fach. Ia tampak begitu gagah dengan kemeja putih, jas hitam dan dasi hitam. Rambutnya yang berwarna hitam pekat disisirnya dengan rapi.

Kini ia sedang menunggu Eva. Ia tampak gelisah, sesekali ia melihat ke arah jam tangan. Hatinya sudah tak sabar untuk antri masuk ke dalam Mezena. Bahagia dan takut bercampur aduk menjadi satu. Khawatir, namun terasa menyenangkan.

Tak lama, ada sesuatu yang menganggu bahunya. Saat ia berbalik, ia melihat seorang gadis yang mampu menyesakkan nafasnya. Harumnya menggetarkan tubuh. Rambutnya yang panjang berwarna coklat diurainya. Dengan gaun putih, ia tampak begitu menawan. Ia tampak seperti bidadari yang didatangkan dari surga untuknya.

“Eva……?” Ed kagum.

“Kenapa? Kaget? Aneh ya kalau saya pakai gaun seperti ini?”

Ed tidak bisa menjawab. Bibirnya seolah dikunci. Ia juga tak bisa mengucapkan bahwa Eva tampak biasa, namun luar biasalah yang ada di benaknya. Kejujuran dalam batinnya meronta.

“Cantik…”

Wajah Eva memerah. Ia tampak malu dengan ungkapan Ed. Walau demikian, ia berterima kasih dengan bergaya seperti seorang putri raja yang sedang memberi hormat kepada sang pangeran di depan Ed.

“Kau juga tampak begitu tampan, Pangeran!” ucap Eva membalas.

“Biasa saja, ini adalah pakaian ayahku sewaktu ia masih muda. Saat dicoba, rupanya pas sekali!”

Eva hanya tertawa kecil.

“Bagaimana jika kita masuk sekarang?” ajak Eva.

“Dengan senang hati, Tuan Putri.” Balas Ed sambil membungkuk.

Eva menggelengkan kepalanya. Ed mengulurkan tangan kanannya, kemudian disambut oleh Eva dengan manis. Setelah itu, mereka berdua berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam Mezena.

Saat mereka ada di depan pintu masuk, terompet berbunyi dan semua orang diperintahkan oleh para penjaga untuk membuat jalan masuk ke dalam Mezena. Tak lama, rombongan Kerajaan Eviania tiba. Satu keluarga besar berjalan menaiki anak tangga. Seketika, semua orang membungkuk memberi hormat kepada Raja dan Ratu. Ed dan Eva terpaksa membungkuk. Hal itu adalah kebiasaan dari dulu sebagai tanda penghormatan kepada pemimpin negeri.

Setelah rombongan Kerajaan Eviania masuk, semua pengunjung lainnya dipersilakan masuk.

Setiba di dalam, warna emas menghiasi dinding-dinding yang tinggi. Di depan panggung, sudah siap kursi-kursi yang akan dipenuhi oleh pemain dari Fe Athea Orchestra. Tak disangka-sangka, Ed bisa menyaksikan pertunjukkan hebat di dalam gedung yang sudah diimpikannya sejak dahulu. Kebahagiaan yang ia rasakan seolah meledak-ledak di dalam hatinya.
Kursi-kursi di panggung sudah diisi oleh para pemain orkestra. Kemudian, riuh tepuk tangan menyambut kedatangan konduktor Fe Athea. Konduktor itu memberi hormat kepada penonton, kemudian, ia menghadap para pemain musiknya, dan…

 

Mozart, Eine Klein Nachtmusic dimainkan.

 

Bersambung

N. R Iswahyudhi
Posted by Yudhi in 09:49:47 | Permalink | Comments (1) »

Monday, November 12, 2007

The Fallen, Gemini of Angel (Part 5 End: My Love My Angel)

Langit gelap menghantuiku, seisi langit menjadi tempat tinggalku. Seru merdu memilu terngiang nyaring berteriak. “Ellea…”

Nama itu kusebut dalam hati di saat aku mengambang di langit memandang kediaman sang kekasih, Ellea.

Lampu kamarnya masih menyala dan aku hanya mampu memperhatikannya dari jauh. Hati kecilku merikuk kesakitan di antara kekejaman manusia terhadap diriku, bahkan keluargaku.

Hatiku menangis, hatiku teriris, bak tak berbentuk. Luka ini menyayat di mana saat aku melihat perempuan atas cinta keluar dari kamarnya memandang langit.

Matanya berbinar, wajahnya memelas, senyumnya terurai, aku turun dengan berlahan mendekatinya di tengah malam yang dingin ini.

“Ellea…” gumamku sambil mengusap air matanya.

Dia membisu tak berkata apa-apa. Senyumnya terpaksa dan rengkuhnya memelukku hingga sayapku menutup tubuhnya berlahan-lahan.

“Maafkan aku, Ellea…”

“Aku tak peduli siapa kamu, darimana asalmu, ibliskah kamu, aku hanya tahu aku mencintaimu, Arthur…”

Aku mengusap rambutnya yang halus dan memeluknya dengan erat.

“Aku pun selalu mencintaimu, Ellea…kehidupan ini adalah kehidupanku untuk menjadi bagian dari hidupmu, kisahmu, deritamu, bahkan perjalanan tak berujung dari dirimu…”

“Arthur! Bisakah kau membawaku pergi dari sini?” pintanya sambil bersandar dipundakku. “Bisakah kau membawaku terbang jauh dari dunia ini?”

“Ya…”

Kulihat bulan purnama di atas kepalaku, kurentangkan sayapku selebar mungkin. Ellea berpengangan denganku dengan erat.

Kebasan sayapku membawa Ellea terbang bersamaku ke langit gelap. Di antara tanpa bintang, Ellea tersenyum kepadaku dan dia bersandar di pundak sambil menutupkan matanya.

“Arthur…?”

“Ya?”

“Bisakah kita akan selalu bersama?”

“Mungkin…”

“Kenapa?”

“Entahlah! Aku yakin tapi tak tahu…”

“Lalu?”

***


Aku dan Ellea turun dari langit ke sebuau bukit hijau. Ellea melepaskanku dan dia berlari ke depan melawan angin.

“Indah sekali…” gumamnya melihat cahaya-cahaya lampu kota dan jalan dari kejauhan.

Aku menghampirinya. Aku berdiri disampingnya memandang pemandangan kota dari bukit.

“Dunia ini sangat indah, Ellea…namun kenapa aku tidak bisa hidup di atasnya?”

“Sudahlah, Arthur…aku tahu kau telah berubah dan kau bukanlah manusia, namun hatimu adalah hati yang tak pernah berbohong dan hatimu juga sebuah perasaan yang sama seperti milikku.”

“Namun kenapa banyak benci pada diriku? Apakah begitu menakutkannya diriku?”

Ellea langsung menutup bibirku agar tak berkata-kata. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jika kau menakutkan, kenapa kau mencintaiku…?”

“Ellea…”

Petir menyambut dan hujan pun turun membasahiku dan Ellea. Dia tersenyum padaku dan kembali memelukku.

Sayapku terbentang lebar dan menjadi payung bagi kami berdua. Binar matanya yang polos membuatku sangat begitu menyayanginya.

“Ellea!” panggilku.

“Ya?”

“Apa kau mau meninggalkan semuanya demi aku?”

“Maksudmu?”

Kulepaskan pelukkanku, kupandang kedua matanya dengan sayu. Aku mendekat dan mencium bibir tipisnya dengan penuh kasih sayang.

Sayapku terbentang lebar, berlahan-lahan menekuk memeluk Ellea dan diriku. Di tengah hujan dan basahnya tubuh, di dalam dinginnya suhu, di antara deru-deru angin, aku mengatakan cinta dengan misteriku.

Tak lama, sorot lampu muncul menyorot aku dan Ellea. Kemudian beberapa mobil polisi datang mengejutkan mengepung kami.

“MENYERAHLAH!!!” perintah salah satu polisi yang keluar dari mobilnya.

Kulangsung memeluk Ellea dengan erat sambil melangkah mundur.

Semuanya mengacungkan pistol ke arahku dan Ellea.

“Jangan!!” perintah Ellea.

Kemudian mobil hitam muncul dan berhenti. Seorang ibu keluar dan memanggil Ellea.

“Ellea! Pergi dan jauhi dia!!” perintah Ibu.

“Tidak, Ibu!” balas Ellea.

DORR!! Satu tembakan dilepaskan dan tiba-tiba bahu kiriku terasa sakit hingga aku tersungkur.

“ARTHUR!??” Ellea panik.

Aku memegang bahuku yang tertembus peluru terasa nyeri dan sakit.

“Jika sekali lagi kau tidak melepaskan gadis itu, kau akan kami tembak!!”

“Arthur!? Kau tidak apa-apa!?”

Ellea tampak begitu khawatir.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum menahan sakit.

“Aku…aku tidak bisa melepaskan Ellea…” gumamku dalam hati.

Aku kembali berdiri dan memeluk Ellea.

“AKU TIDAK BISA MELEPASKAN ELLEA!!!” teriakku nyaring hingga menggema dan diikuti guruh petir.

Sayapku tertentang lebar dan kami berdua terbang ke langit serta dihujani oleh timah-timah panas. Helikopter mengejar aku dan Ellea sambil melepaskan tembakan hingga akhirnya kami berdua tiba di tengah kota. Aku mendarat bersama Ellea tepat di tengah jalan hingga mengganggu lalu lintas. Polisi sudah mengepung dan aku – Ellea sudah tidak bisa ke mana-mana lagi.

Keluarga Ellea juga turut tiba disana untuk kembali mengambil Ellea. Satu dari polisi dengan senapan diam-diam melepaskan tembakan ke arahku. Percikan darah mengejutkanku saat darah itu membasahi wajahku dan Ellea jatuh dipelukanku.

“ELLLEEAA!!!” teriak sang Ibu ingin mendekat namun dihalang-halangi oleh polisi.

Mataku terbuka lebar, jantungku berdetak kencang, nafasku seolah ingin berhenti.

“Arthur…” gumamnya dengan mata yang sayu.

“Ellea…? Bertahanlah…”

Aku berdiri namun satu tembakan lagi menghujamku tepat di kaki kiriku. Nyerinya luar biasa dan aku hanya bisa menahannya sebisa mungkin.

Aku sudah tak tahan lagi. Kesabaranku memuncak. Ketakutan membungkus, Cinta memeluk. Aku ingin meronta gila.

“AKU AKAN BUNUH KALIAN SEMUA!!!!” teriakku senyaring-nyaringnya.

Tapi, sebuah jari telunjuk menutup bibirku hingga tak berucap lagi. Hatiku luluh seperti es yang mencair.

“Aku tak ingin kau menjadi pembunuh, Arthur…aku tak ingin…”

Ellea mencoba berdiri sambil menahan luka di perutnya karena tembakan saat bersamaku. Kami saling memeluk dan memandang ke depan di mana senjata-senjata mengarah kepada kami. Jumlahnya lebih dari sepuluh senapan.

Aku menatap Ellea dan dia menatapku. Dia tersenyum padaku sambil bersandar, aku tersenyum sambil menangis. Tak kusangka ia begitu ikhlas untuk bersamaku. Inikah kekuatan cinta yang selalu dicari oleh manusia? Kenapa monster sepertiku memiliki cinta yang hanya pantas dimiliki oleh manusia saja?

“Aku mencintaimu…Arthur…”

“Aku…Aku…Aku juga mencintaimu, Ellea…”

Sayapku merentang luas kemudian sejuta tembakan serta teriakan menulikanku. Sayapku tertutup sesaat namun aku terlempar terlepas dari pelukkan menghempas lantai dengan keras.

Mataku terbuka memandang Ellea yang terbaring diseberangku, aku tersenyum saat melihat tetes air mata dibalik senyum manisnya. Kemudian, berlahan-lahan mataku tertutup dengan sendirinya, telingaku tak bisa mendengar, bibirku tak berucap, tubuhku tak bergerak, kemudian…detak jantungku terdengar dari sendi-sendi, Duk! Duk! Duk! Duk! Dan…berhenti…

***


“Ellea!”

“Ya?”

“Kenapa kau mencintaiku?”

“Entahlah!”

“Kenapa entah?”

“Tidak tahu?”

Ellea

Perempuan manis kekasih malaikat

Arthur

Sesuci cintanya membimbing pada arti kehidupan fana

Fin…

N. R Iswahyudhi
Posted by Yudhi in 09:05:41 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, October 17, 2007

The Fallen, Gemini of Angel (Part 4: Where is My Love)

Aku turun dari langit gelap, menyelimuti tubuhku dengan sayap hitam, berjongkok memelas sedih di tengah-tengah hujan deras di atas bukit. Aku tak tahu harus ke mana kuberlari?

Kini, dua hari setelah kejadian itu di mana bulan masih terlihat purnama di antara awan-awan hitam dan bintang-bintang. Di tengah malam, kuturun di depan rumahku di mana tak ada cahaya dari rumah itu, layak ditinggal oleh penghuni.

Kulipat sayapku hingga menghilang bagai debu. Kubuka pintu, rupanya tak terkunci. Rumah itu sepi tak ada penghuni. Kulihat sekeliling, mulai dari ruang tamu, hingga kamar orangtuaku, mereka sudah tak ada di sini.

“Apa yang kau cari?” tanya seseorang. Suaranya bergema.

Kuterkejut sambil menoleh kebelakang dan tiba-tiba sekelilingku menjadi gelap gulita dan hanya satu cahaya terang di depanku, cahaya yang muncul dari sosok yang memiliki sayap putih.

“Siapa kau!?” tanyaku.

“Oracle…bangsamu.”

“Oracle?”

Kulangsung mendekatinya dan bergegas menarik leher kerah jubah putihnya, namun hanya bisa menembusnya seperti bayangan.

“Kau takkan bisa menyentuhku, Arthur. Aku memang oracle dan kemari untuk memberitahumu sesuatu yang telah digariskan untukmu.”

“Maksudnya?”

“Dimata manusia oracle menjadi dua jenis, sesuatu yang jahat dan malaikat. Namun, sebenarnya oracle adalah sama seperti manusia makhluk hidup diperuntukkan kepada-Nya. Ada yang jahat dan ada yang baik, ada yang bersosok buruk dan ada yang bersosok cantik.”

“Lalu? Siapa sebenarnya aku? Jahat atau siapa yang dibilang cantik?” tanyaku.

“Jawabannya ada padamu, Arthur. Aku hanya menyampaikan bahwa orangtuamu sudah dibawa oleh manusia dan menganggap mereka adalah hal yang menakutkan dan jahat, namun sebenarnya tidak, hanya sosoknya, wujudnyalah yang jahat.”

Aku tertunduk dan terduduk. Pikiranku sudah menjadi satu dan terasa kacau. Kenapa ayah dan ibuku tak mengatakan bahwa kami adalah oracle? Ras yang tak diterima oleh penghuni bumi. Kenapa?

“Arthur…aku hanya menyampaikan hal itu dan ada satu hal yang tak bisa kukatakan padamu, namun kau akan mengetahuinya nanti.”

Aku angkat kepalaku dan aku sudah ada di rumah dengan keadaan semula. Kuberdiri dan mencari sosok bersayap putih itu. Tapi, percuma.

BRAKK!! Pintu dibuka keras dan Alain berdiri di depan dengan wajah terkejut. Dia bergegas mendekatiku dan memeriksa tubuhku.

“Kau? Tidak apa-apa?”

“Tidak.”

“Syukurlah!” ucapnya lega.

“Di mana orang tuaku?” tanyaku padanya.

“Orang tuamu dibawa polisi, mungkin mereka akan ditanya tentang kau dan siapa kalian semua.”

“Artinya orangtuaku baik-baik saja?”

“Tapi, aku sendiri tidak bisa memastikannya.” jawabnya sambil menundukkan kepala.

Kudorong dia hingga menyingkir dari hadapanku berjalan keluar.

“Kau mau ke mana!?”

“Ku ingin menemui orangtuaku.”

“Apa kau gila!?” dia berlari menyusulku. “Kau! Aduh, bagaimana, tapi kau memang tidak mungkin bisa menemui orang tuamu! Kau bisa terbunuh!”

Kuberhenti berjalan.

“Lalu, aku harus berbuat apa? Diam saja menunggu kedua orangtuaku mati?”

Tiba-tiba pengelihatanku berubah di mana aku bisa melihat ayah dan ibuku tergantung dengan sayapnya diikat dengan rantai. Mereka berlumuran darah dan seperti tak bernyawa. Dengan mata yang tajam, kuberlari ingin mendekati mereka tapi tetap aku tak bisa mendekati mereka.

“Lihat! Itu dia!? Si manusia terbang!?” tunjuk tetangga yang melihatku.

Aku terkejut dan sadar aku mungkin bermimpi. Tapi, orang itu berteriak nyaring menyebut-nyebut monster kepadaku hingga semua orang ingin melihatku.

“Lari! Lari!” perintah Alain.

“Tapi?”

“Sudah! Larilah!”

Ini gila, aku langsung lari dan cahaya ungu muncul di punggungku menjelma menjadi sepasang sayap yang membawaku terbang ke langit.

***

Lagi-lagi aku dikejar polisi dengan beberapa helikopter. Aku terbang menghindari setiap tembakan yang dilancarkan polisi. Terus menghindar bagai penjahat, terus menjerit karena hati yang sakit hingga pada akhirnya kuberhenti berlari. Kumengambang di mana tiga helikopter mengepungku.

“KAU SUDAH TIDAK BISA LARI LAGI, ARTHUR! MENYERAHLAH!!” Polisi di dalam helikopter itu memerintahkanku.

“Kenapa kalian ingin membunuhku? Apa salahku?” tanyaku pada mereka.

“DIAMLAH! MENYERAH SAJA! KALAU TIDAK, KAU AKAN BERNASIB SAMA SEPERTI ORANGTUAMU!”

Kuterkejut dan rasanya detak nadiku berhenti. Benakku terasa kosong yang kutahu hanya “Mati”.

Aku tak menyangka apa yang kulihat tadi adalah kenyataan yang telah terjadi. Tapi, itu hanya mimpi, bukan? Aku, aku benar-benar tidak bisa terima ini.

Kurentangkan sayapku di mana amarahku memuncak tak tertahankan, kumelesat cepat terbang ke atas menembus awan.

Hatiku terluka, hatiku rasanya ingin mati. Mengetahui orang yang menyayangiku sejak kecil dibunuh karena aku, tapi apa salahku? Apa karena sosokku? Apa karena aku yang berani tinggal di atas bumi ini? Apa bedanya kami dengan mereka?

Hujan deras membasahi tubuhku. Ku berdiri di atas menara lonceng kota. Petir-petir menyambar dan tubuhku benar-benar sudah kedinginan. Aku tak tahu harus lari ke mana. AKu tak tahu arah ke mana tujuanku, hidupku, dan jalan takdirku. Kulihat ke atas, kulihat bulan tepat ada di atas kepalaku.

Kuberdiri dan akhirnya terkulai jatuh menghempas tanah. Mataku tertutup berlahan-lahan hingga di telingaku berbisik “Arthur…”

***

Kubuka mataku berlahan-lahan dan kubisa melihat kakek berjubah putih memandangku. Kubangun sambil memegang kepala, rupanya perban membalutnya.

“Kau sudah sadar?” tanya Kakek itu.

“Ini di mana?” tanyaku.

“Kau aman di sini, mereka tidak akan menemukanmu di sini.”

Kuperhatikan gedung ini, aku sadar bahwa aku ada di dalam tempat tuk berdoa kepada-Nya. Kuberjalan dan tubuhku masih terasa goyang.

“Kau harus banyak istirahat anak muda.” ucapnya sambil memberikan secangkir air putih.

Aku mengambil air itu kemudian meminumnya.

“Kakek, kenapa Kakek menolongku? Aku bukan manusia dan Kakek tahu itu, bukan?” ucapku.

“Ini bukan tentang apakah kau manusia atau tidak, tapi menolong adalah hal mulia yang harus dilakukan jika melihat ada yang membutuhkan.”

“Tapi, kenapa Kakek tidak takut?”

“Kenapa harus takut kalau kau tidak berniat untuk membunuh Kakek atau menyakiti Kakek?”

Aku sadar bahwa aku memang ditakuti, tapi masih ada manusia yang menghargai dan menganggapku bukanlah makhluk yang harus ditakuti.

“Orangtuamu telah dihukum mati oleh para berwajib tanpa melalui sidang dan kini mereka terus mencarimu. Jadi, lebih baik kau pergi dari kota ini dan hiduplah dengan tenang di tempat lain di mana tidak ada yang menganggapmu berbahaya.” ajak Kakek itu sambil menepuk pundakku.

“Jadi, Kakek juga tahu tentang aku?”

“Televisi dan koran mengatakan semua itu, anak muda.”

Kakek itu membuka laci meja dan mengambil sepasang cincin yang terselip pada rantai kalung. Dia memberikannya kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku sambil melihat ukiran sayap pada cincin itu.

“Dahulu ada sepasang yang sama sepertimu. Mereka saling mencintai dan memutuskan untuk meninggalkan kota ini selamanya – hidup di tempat lain. Dia memberikan ini kepada Kakek karena berterima kasih telah menjaga mereka dengan baik sejak kecil hingga menikah seperti manusia. Karena Kakek khawatir, mereka Kakek usulkan untuk pergi dan hidup dengan damai di mana hanya mereka yang ada.”

“Oracle…” gumamku dalam hati.

Kupandangi cincin itu dengan seksama dan dibalik lingkarnya terdapat tulisan ‘Terbanglah bersama kekasih.’

Aku sadar aku masih mempunyai sandaran hati, aku sadar ada sesuatu yang terlupakan oleh diriku. Sesuatu yang mampu memberikan segalanya atas nama kebahagiaan. Tapi, saat kuingat ayah dan ibuku, aku kembali bersedih dan hatiku benar-benar terasa sakit. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi dengan cara yang tidak benar? Rasanya sakit sekali, aku selalu saja ingin marah dan membunuh siapa yang telah membunuh mereka.

“Sudahlah, lebih baik kau tinggal di sini untuk beberapa hari dan jangan pernah keluar.”

“Tapi aku harus keluar, Kek…” ucapku pelan.

Dia bingung dan tidak mengerti.

Kubangun dan sayapku terentang lebar nan anggun. Kulihat sayapku, rasanya memiliki sesuatu yang anggun, menakjubkan dan kokoh walau sebenarnya sangat gelap dan menakutkan.

“Maaf…” gumamku.

Kukepakkan sayapku hingga badanku terangkat terbang ke atas lurus menembus atap kaca.

Langit masih gelap, mungkin subuh. Kuterbang pergi ke sebuah tempat di mana seseorang yang kusebut kekasih berada.

“Bisakah kumenemuimu? Ellea…”

Bersambung…

N. R Iswahyudhi

Posted by Yudhi in 14:50:35 | Permalink | Comments (3)

Tuesday, September 25, 2007

The Fallen, Gemini of Angel (Part 3: The Raising of Darkness)

Pagi ini sangat baik bagiku, awal permulaan yang baik untuk bersekolah. Kupergi ke ruang makan, ayah dan ibuku sedang menikmati sarapan pagi bersama.

“Sudah bangun?” tanya Ayah.

Kutarik kursi dan duduk di samping Ibu. Kuambil roti yang tergeletak di atas meja sambil memberi selai coklat di atasnya.

“Ku pergi!” ucapku sambil berdiri. Aku langsung berlari sambil mengambil tasku yang tergeletak di lantai.

Aku benar-benar bersemangat ke sekolah pagi ini. Hatiku seperti terbang dengan kedua sayap, anggun dan indah, hingga tak ada satu pun yang mematahkannya karena takkan ada yang bisa mengapainya. Apa seperti inikah cinta?

***

Perjalanan seorang kekasih yang telah mendapatkan cinta memang serasa terbang memeluknya di antara awan-awan putih dan kepakan sayapku yang melindunginya dari rasa dingin, hingga ketakutan. Hingga waktu yang terasa lama ingin dikejar hingga terasa semakin lama, walau begitu rasa itu tetap bisa ada dan hadir dan bertahan hingga waktunya.

Derap kakiku mengitari tangga akhirnya berhenti saat membuka pintu. Di atas atap sekolah, angin bertiup kencang dan aku menikmatinya. Kulangkahkan kakiku ke depan – berdiri di tengah-tengah menikmati suasan yang tak terlalu panas, bahkan tak begitu dingin.

Kuhela nafasku sambil memasukkan sepasang tanganku ke dalam kantong – berdiri tegak melihat langit.

“Sudah lama?” tanya seseorang.

Kubalik badan dan kulihat gadis manis yang menyambutku pada saat pesta, pada waktu itu.

“Mungkin saja, namun waktu bagiku terasa berhenti dan waktu itu adalah milikku sendiri.”

“Begitu?”

Ellea berjalan mendekatiku berlahan-lahan.

“Bagaimana dengan hatimu? Apakah berhenti berdetak?”

“Tidak!” jawabku, “Jika hati ini berhenti berdetak, bagaimana aku bisa merasakan apa yang aku rasa sekarang?”

“Seperti apa rasa itu?”

“Tak bisa kujawab jika kau menanyakannya.”

“Kenapa?”

Tak kujawab saat itu, namun kutarik dia hingga masuk ke dalam pelukkanku. Jantungnya berdetak di dekat dadaku, kedua tanganku memeluknya erat dan rasanya damai sekali, seolahku memiliki sepasang sayap dan membawanya untuk terbang bersama.

“Mungkin karena perasaan ini sebuah misteri, jadi aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, takut berlebihan atau mungkin tidak.”

“Arthur…”

Kulepaskan pelukkanku dan bersandar di dinding kawat. Angin meniup rambutnya hingga dia terlihat kesusahan merapikannya.

“Ellea!” panggilku.

“Ya?”

“Aku bertanya dalam hati, apakah kita akan bisa bersama seperti pertama ini untuk selamanya?”

“Entahlah, jika kumenginginkannya itu adalah tentu, namun bagaimana dengan-Nya yang memainkan kita? Bukankah kita hidup untuk-Nya?”

Kumenundukkan kepalaku. Ellea mendekatiku dan bersandar di bahuku.

“Aku takut, Ellea…aku takut.”

Waktu istirahat makan siang usai. Bel sekolah berbunyi menandakan kami harus berpisah.

“Ellea!” panggilku saat dia ingin pergi.

Kumendekatinya dan memandang wajahnya dari dekat.

“Ada apa?”

Kupegang pipinya dengan kedua tanganku. Jari-jariku menyentuh pipinya yang lembut dan membuatnya diam membungkam. Kudekatkan kepalaku melayang dengan sendirinya mendekatinya ingin memberikan sentuhan pada bibirnya, namun…

Jantungku berdetak kencang, nafasku terhenti, tubuhku roboh dan mencoba tuk bernafas. Pandanganku berubah – yang kulihat adalah merah dan hitam. Ada apa denganku?

“Arthur?” Ellea memegang tubuhku yang bergetar, “Arthur!?”

Kubernafas tersengal-sengal dan tubuhku terasa sakit sekali. Aku tak bisa mengendalikan diriku, aku tak bisa mengangkat tubuhku, aku tak bisa memandang kekasihku. Ada apa denganku?”

“Arthur!? Arthur!? Kau kenapa!?”

Ellea sudah mulai panik. Dia mulai memeriksa tubuhku, wajahku, semuanya. Dia kebingungan dan pucat pasi.

“Ell…” gumamku kecil.

Tiba-tiba langit menjadi gelap, awan berkumpul menghitam diiringi oleh angin kencang. Ellea terbungkam melihat apa yang ada di langit, seperti Tuhan yang akan murka.

Aku coba berdiri dan bisa walau susah sekali. Kumenjauh dari Ellea sambil memperhatikan diriku yang semakin bisa kukendalikan namun sinar-sinar merah dan ungu menyala di dalam tubuhku, kulitku.

“Arthur?” Ellea terkejut melihatku.

“Pergi, Ellea! Pergi!” perintahku.

“Kenapa aku harus pergi? Aku tak mungkin meninggalkanmu begini!?”

Tubuhku kesakitan, dan punggungku terasa ada yang mau keluar.

Tak lama, teman-teman yang lain ada di sini karena ingin melihat fenomena langit, namun mereka melihatku di bawah langit yang gelap di mana awan membentuk cincin menerangiku seorang diri. Semuanya tercengang dibuatnya, tak ada satu pun yang berani mendekatiku.

Ellea meneteskan air mata, mungkin dia menangis kini. Tapi bukan itu yang ingin kulihat saat ini. Yang ingin kulihat adalah sesuatu yang disebut cahaya kebahagiaan saja dari dirinya.

Kasihku terduduk menangis pucat melihat keadaanku. Kenapa dan ada apa denganku?

Tak lama, punggungku terasa ada yang ingin keluar dengan paksa dan aku berteriak nyaring kesakitan menyebut nama Ellea.

Bersama semburan darah yang keluar dari punggungku, sepasang sayap hitam nan besar keluar merekah besar nan agung. Kutersungkur menangis kesakitan merasakan sesuatu yang sangat perih sekali, namun saat aku angkat kepalaku untuk memandang Ellea, dia terdiam, terbungkam seperti melihat setan turun dari langit.

“Ar…thur?”

Kuberdiri dan terus memandang Ellea yang terdiam.

Petir menyambut beberapa kali bersama gemuruh, hujan turun setelah itu membasahi tubuhku yang bersayap hitam.

“Ellea!” ucapku sambil mendekatinya.

“JANGAN MENDEKAT!!” perintah guru menghentikan lariku.

“Ke, kenapa?”

“Kau bukan Arthur? Kau siapa?” tanyanya.

“Ini aku, Arthur!” jawabku tegas.

“Lihat dirimu! Kau bersayap! Kau bukan manusia! Kau monster!”

“Tapi, ini aku, Arthur!”

Sekali lagi petir menyambar. Ellea dibawa oleh guru itu untuk menjauhiku, dan dia diam saja seperti melihat sosokku sebagai setan.

“Ellea…” kuangkat lengan kananku ingin meraihnya.

“Panggil berwajib dan tangkap dia!!” perintah salah satu guru.

Aku mulai panik, semua orang ingin menangkapku. Dengan waspada mereka terus mencoba mendekatiku untuk menangkapku.

Kurentangkan sayapku dan mengepakkannya hingga kumelayang di udara memandang mereka semua yang ada di bawahku.

Aku kenapa? Bagaimana bisa kumemiliki sepasang sayap? Apa benar aku bukanlah manusia?”

Para berwajib kota Eralin telah tiba. Mereka membawa senjata dan siap menembakku seperti binatang lepas dari kebun binatang.

Aku ketakutan, aku terbang semakin tinggi dan akhirnya meninggalkan sekolah, begitu juga dengan Ellea. Tapi, pelarianku belum berakhir. Para berwajib mengikuti terus dan kini menggunakan helikopter untuk menangkapku.

Aku terus terbang semampuku hingga akhirnya ku bisa menghindar, menghindar dengan bersembunyi di balik dedaunan pohon besar. Kumelipat sayapku dan bersembunyi lama sekali, bersembunyi hingga matahari kembali untuk tidurnya.

Kupulang dengan keadaan yang berbeda ini. Ibuku terkejut melihatku di mana ayahku juga ada di situ.

“Ibu…” sapaku memandangnya dengan penuh cinta.

“Arthur…!?”

Tubuhku lemas dan aku terjatuh menghempas lantai. Ibuku panik dan langsung memangkuku yang kelelahan.

“Kau tidak apa-apa, Arthur?” tanya Ibu.

“Ibu, siapa aku?”

Ibuku tertunduk dan tak menjawabnya.

“Ayah?” tatapku padanya.

“Istirahatlah dulu, kau membutuhkannya.”

Kukembali bangun, memaksa. Kupandang ayah dan ibuku dengan penuh amarah.

“Katakan, siapa aku dan bagaimana aku bisa memiliki sayap seperti ini!?”

“Sabarlah,”

“TIDAK AYAH!” potongku, “Kuingin kau menjelaskan semua ini sekarang! Aku tak bisa hidup dengan keadaan seperti ini Ayah, jadi katakan siapa aku sebenarnya?”

“Baiklah,” ucap Ibu tertunduk, “Kita memang bukan manusia, tapi Oracle, para pemimpi. Kita bisa melihat masa depan dengan kemampuan kita dan dunia kita bukan tempat di mana kita harus hidup sekarang ini.”

“Jadi, kita tak seharusnya hidup di dunia?”

“Ya,” sambung ayah, “Oracle adalah ras yang dianggap manusia adalah iblis, setan, atau apa yang menjelma untuk menyakiti manusia dan itu tak semuanya benar namun mereka menganggapnya benar.”

“Jadi, manusia tahu siapa kita?”

“Dulunya memang iya, sejak oracle hilang dari dunia mereka menganggapnya punah dan sebenarnya itu juga perbuatan mereka dengan membunuh kita.”

Aku tahu siapa aku kini, dan tahu bahwa manusia membenci aku, keluargaku. Tapi aku dan keluargaku juga ingin hidup, untuk itu kami hidup di dunia dengan menyamar sebagai manusia. Bodoh, bukan?

***

Dua jam setelah itu. Aku telah menganti pakaianku dengan jubah hitam yang sudah dibuat untukku, karena orangtuaku tahu kelahiranku yang berdekatan dengan kegelapan. Setelah itu, Aku dan keluargaku melihat berita di televisi bahwa manusia terbang dan meresahkan masyarakat, semua orang dihimbau untuk menjauhiku kalau ada kesempatan, kenapa tidak untuk dibunuh. Kejam sekali.

“Ayah!” panggil Ibu saat melihat sesuatu diluar jendela.

Ayah terkejut dan mendekatiku bersama Ibu.

“Kau harus pergi dari sini, Arthur! Polisi sudah ada di sini, mungkin mencarimu.” ucap Ibu.

“Tapi?”

“Pergilah!!” perintah Ayah.

Kumelangkah mundur sambil membuka pintu belakang.

“Arthur!”

Kuberbalik mendengar panggilan itu dan Ibu langsung memelukku.

“Berhati-hatilah, anakku.”

Kupergi terbang ke langit seorang diri di malam dingin penuh bintang dan senyap. Dengan meneteskan air mata, kulihat ke bawah di mana aku tak tahu apa yang terjadi dengan kedua orangtuaku. Sambil terus meneteskan air mata di bawah hujan, ku terbang semakin tinggi hingga menembus awan di mana aku bisa melihat awan yang menangis dari atasnya. Tapi juga menangis tergantung di atas langit memandang bulan yang besar bersinar untukku.

Bersambung…

N. R Iswahyudhi

Posted by Yudhi in 14:04:29 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, September 18, 2007

The Fallen, Gemini of Angel (Part 2: Scent of love)

Mataku terbuka, kulihat aku berada di dalam kamarku dengan tubuh tergeletak di lantai. Kubangun dan kuperhatikan tubuhku, kuangkat kedua tanganku, aku sadar aku tidak apa-apa. Namun demikian, apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak mengerti.

Burung gagak hinggap di jendela kamarku. Dia memandangku penuh misteri. Kemudian burung itu kembali terbang dan aku berlari mendekati jendela melihat keluar memperhatikan ke mana burung itu pergi.

Bulan purnama di antara butiran bintang-bintang, burung itu terbang menjauhiku seorang diri. Dalam hatiku selalu bertanya-tanya apa yang terlah terjadi sebenarnya?

***

Burung berkicau di pagi hari. Aku kembali bangun dari tidurku dan kehidupanku ada seperti apa adanya. Hari ini adalah akhir pekan dan sekolah sedang libur. Kuturuni tangga untuk mengambil sarapanku.

“Pagi, Arthur!” sapa Ibu.

“Pagi, Bu!”

“O, ya! Tadi Alain mencarimu.”

“Hah? Mencariku?”

Pagi sekali, pikirku.

“Iya, dia bilang dia ingin mengajakmu ke acara pesta ulang tahun malam ini.”

Siapa yang berulang tahun? Pikirku.

“Apa dia meninggalkan pesan lain?”

Ibuku memberikan sepucuk surat dengan amplop berwarna emas. Kumengambilnya sambil menarik kursi untuk duduk. Kubuka dan kubaca apa isinya.

Masquerade Party

Perayaan Pesta Keluarga Asentila

Jadi ini yang membuat Alain datang menemuiku? Kulipat undangan itu dan kuselipkan di kantong belakangku.

***

Kubuka pintu kamar dan laki-laki bernama Alain bergegas membereskan sesuatu dengan panik.

“Hei!” sapaku sambil duduk di tempat tidurnya.

“Kau tidak berubah, Arthur!” ucapnya kesal, “Selalu saja masuk ke kamar tidak bilang-bilang, apa kau tidak mengetuk pintu rumah agar orang rumah tahu jika ada tamu atau mungkin maling?”

Aku tertawa kecil sambil memberikan undangan yang dititipkannya pada ibuku

“Undangan apa ini?” tanyaku.

“Ini pesta topeng yang diadakan oleh keluarga Asentila, aku memberikan undangan ini padamu karena mungkin saja kau ingin hadir di acara itu?”

“Kau seperti tidak tahu aku saja!” seruku sambil berbaring di atas tempat tidurnya.

Alain mendekatiku dan memandangku dengan wajah marah, sepertinya. Kubangun sambil menghela nafas.

“Tapi di sana tertulis namamu, bukan?”

“Oh, tidak, tidak! Ini memang untukku namun aku juga perlu teman untuk ke sana, bukan?”

“Aku tidak suka pesta!” jawabku sambil berdiri.

“Tapi, kau harus menemaniku karena kau berhutang padaku!” ancamnya.

Aku berpikir sejenak tentang apa yang dia katakan.

“Memangnya aku hutang apa denganmu?”

“Sebenarnya, tidak ada sih, tapi…”

“Sudahlah!” potongku sambil keluar.

Dia bergegas menyusulku dan mencegahku pulang.

“Tolonglah……” mohonnya memelas.

Dasar laki-laki lemah, pikirku. Kutepuk bahunya “Baiklah!”

***

Pesta itu dimulai pukul 08.00 malam di kediaman keluarga Asentila. Aku datang bersama Alain dengan kostum zirah pelindung di kedua bahu hingga pergelangan tangan, mythril, celana kulit, dan topeng wajah berwarna putih dan terpotong sebelah.

Pestanya diadakan di taman belakang rumah, tapi kupikir ini bukanlah rumah melainkan istana. Kediaman yang mewah, besar, dan sangat berkarakter ini diramaikan dengan lagu-lagu orkes dan pestanya dihadiri oleh semua kalangan, mulai dari bangsawan, darah kerajaan, hingga teman-teman sekolah, namun karena topeng sangat sulit mengenali siapa dibalik topeng itu.

Aku tidak suka dengan keramaian. Aku memilih duduk di sudut di mana kurang akan keramaian. Taman ini benar-benar penuh akan tamu dengan kostum-kostum yang unik.

“Kau ingin di sini saja, Arthur?” tanya Alain, “Lebih baik kau membaur dengan mereka dan menikmati pesta ini.”

“Sudahlah…” keluhku sambil melambaikan tanganku agar dia menjauh, “Aku tidak suka keramaian, lebih baik mendengarkan lagu yang disajikan para orkes, itu lebih baik.”

“Baiklah! Kalau begitu kau di sini saja, aku ingin menikmati pesta.”

“Silakan…”

Alain meninggalkanku, kini jelas bahwa aku sendirian. Karena suasananya tetap saja ramai, aku pergi ke taman di mana taman itu cukup sepi dan tenang. Kurasa itu adalah tempat terbaik di kediaman ini.

Aku duduk di kursi di dekat air mancur sambil melihat langit gelap yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Suasana yang dingin namun tenang dan langit yang indah menambah kedamaian dalam benakku.

“Hei!!” panggil seseorang hingga kuterkejut dan berbalik ke arah suara itu.

Gadis dengan gaun putih nan anggun, bermahkotakan gemerlap batu permata, dan topeng putih menutup kedua matanya hingga wajahnya tersamarkan. Ia berdiri di atas teras lantai dua, tepat di jendela kamarnya. Selain itu, rambut pendeknya terurai di balik mahkota. Itu membuat hatiku bertanya-tanya siapa dia?

“Siapa kau?” tanyanya.

Aku berdiri dan memandangnya penuh penasaran.

“Jawab pertanyaanku, siapa kau pemuda dengan topeng putih dan gagah seperti kesatria?”

“Kau sendiri? Siapa?” Balasku sambil mendekat.

Dia membuka topengnya sambil berkata “Ellea…”

Dengan hati yang terkejut, aku pun membuka topengku dan membungkukkan punggungku memberi hormat sejenak.

“Aku hanya penziarah saja, bukan kesatria atau siapa yang dikenal gagah. Aku hanya pemuda dengan nama Arthur tertulis sejak aku lahir.”

“Lalu, apa yang kau lakukan di bawah sana? Di keramaian pestaku banyak sekali yang menikmatinya, namun kenapa kau ada di sini? Bukankah di bawah sana sangat sepi?”

Kulihat akar yang menjulang di sisi tembok dan mudah dipanjat. Kupanjat tembok melalui akar-akar itu dengan terus berkata-kata.

“Aku tidak suka keramaian, aku hanya kemari karena alasan terpaksa, namun setelah memandang bintang di langit gelap di antara suasana dingin yang menusuk, kumenemukan putri cantik nan anggun berdiri dan berkata ‘Hei!’ dan aku menyadari bahwa aku ingin mendekatinya, dan kini aku berada di depannya, di depanmu.”

Kuberada tepat disampingnya.

“Berani sekali kau naik kemari menemuiku?” tanyanya sambil melangkah mundur menjauh, “Aku adalah putri suci yang harus menjauh dari semua orang dan tak boleh di dekati jika ingin tak berdosa.”

“Lalu, berdosakah hamba yang hanyalah penziarah dan sangat mengenal dosa itu jika mendekatimu?” ucapku bertanya sambil mencoba mendekat.

“Iya.”

“Lalu apakah salah jika aku menyentuh tanganmu jika alasannya adalah cinta dan kasih?”

Tangannya kutarik dan dia mendekat.

“Ellea? Bolehkah Pendosa ini mengambil hati suci dan polosmu sebagai pengagum dari sosokmu itu yang sesuci malaikat?”

Dia menarik tangannya dan berlari meninggalkan teras. Alunan-alunan musik terdengar indah dan pantas sekali untuk berdansa. Kukejar dia tanpa peduli siapa di sekitarku atau apa golongan mereka.

Saat mendekati tangga turun, kulihat Ellea turun mengenakan topengnya dan aku pun mengenakan topengku sambil mengejarnya turun.

“Wahai Putri misterius yang membuatku terlena akan kecantikan, bolehkah hamba mengajakmu berdansa denganku bersama alunan musik di antara pertanyaan-pertanyaan siapakah Putri gerangan?”

“Tidak!” jawabnya sambil terus berjalan cepat.

“Lalu, apa aku berlebihan dalam kata-kata hingga Putri tidak mau?”

“Emm…”

Dia berhenti saat kami berada di taman belakang tempat di mana pesta dansa diadakan.

“Aku adalah manusia hina yang menyukaimu pada harum pandangan pertama di antara duri-duri mawar yang mampu melukaiku, mungkin aku mencintaimu…”

Dia tersenyum sambil membuang wajahnya dan kembali berjalan. Kucegah dia dengan berdiri di depannya dan mengulurkan tangan kananku di depannya.

“Bagaimana jika Putri ini tidak mencintaimu?”

“Memang salah jika yang hina ini mencintai seorang Putri, namun sebagai Kesatria, hamba juga berhak bertanya kepada Putri tentang perasaan dan apabila ada cercah cinta untuk hamba sebagai kekasih, raihlah tangan ini sebagai kekasih.”

Jemari-jemari yang terlapis kain sutra putih anggun nan lembut menyentuh tanganku di balik besi-besi zirah. Kurengkuh tangannya dan kuajak dia berlari ke sudut di mana musik terdengar dengan suasana sepi.

“Kenapa kemari?”

“Aku ingin berdansa denganmu, Ellea.”

“Tapi di sini sangat sepi dan hanya musik yang terdengar.”

Aku ulurkan tanganku lagi sambil mengucap “Mau berdansa denganku?”

***

Diantara kelap-kelip bintang malam, setelah anggunnya dansa, aku dan Ellea menikmati suasana malam bersama.

“Maaf, aku telah berkata aneh di depanmu.” ucapku sambil tertunduk.

“Tidak apa-apa, aku suka itu!” jawab Ellea, “Tapi apakah ungkapan-ungkapan itu serius?”

“Maksudmu?”

Dia memandangku sambil tertawa kecil.

“Kata-kata yang terucap saat pertama kali kau bertemu denganku dengan mengenakan topeng, apakah itu benar-benar dari hatimu?”

Aku pun memandang kecantikannya dengan sungguh-sungguh.

“Iya.”

Dia tertawa kecil lagi namun kali ini sedikit bersuara.

“Kau sendiri? Apakah perasaan dan penerimaan uluran tanganku itu sungguh-sungguh?”

Sambil malu dia menganggukkan kepalanya.

Hatiku serasa mau teriak. Kegembiraan dan bahagia tak tergambarkan di sini, penuh akan pertanyaan kenapa aku bisa mencintainya, awalnya? Namun di antara pertanyaan itu, pikiran itu adalah pikiran bodoh yang harus mempertanyakan hal itu. Hidup itu misteri, bukan?

“Ellea…”

“Ellea!!!” panggil seseorang.

Aku dan Ellea terkejut dan melihat siapa yang memanggil.

Pembantu Asentila menghampiri Ellea.

“Kau di sini rupanya, ibumu sedang mencarimu.”

Ellea memandangku dengan khawatir.

“Pergilah!” perintahku.

“Tapi, bukankah pertemuan ini…”

“Sudahlah, pergi dan temui ibumu segera!” potongku sambil memegang kedua tangannya. “Kita tidak berpisah lama, bukan? Ini hanya sejenak dan waktu akan berputar dan kita akan bertemu lagi.”

“Bagaimana jika esok?” tanyanya sambil melepas kedua tanganku dan berjalan mundur menjauh.

“Tidak bisa karena tidak ada.”

“Bagaimana esok lagi?”

“Di atap sekolah setelah waktu makan siang tiba, aku akan menunggumu di sana.”

“Benarkah?”

“Ya, aku akan menunggumu di sana.”

“Janji?”

Dengan tenang dan tersenyum aku menjawab “Janji…”

Harum bunga samar seperti ketika kau mencium harum cinta yang sebenarnya tidak akan pernah muncul pada jejak pertama. Seruan atas nama cinta dikatakan hal-hal yang berlebihan, namun ketika sepasang manusia menemukan cinta di balik misterinya, mereka tanpa sadar menyerukan kata-kata indah dan berlebihan, bisakah ditertawakan? Mungkin tertawa ketika kita tidak menemukan misterinya di balik harumnya cinta yang tak pernah tertangkap. Namun bagi pencinta, dia tak akan tertawa karena hidup alasan lain mengapa mencarinya.

Bersambung …

N. R Iswahyudhi

Posted by Yudhi in 07:14:17 | Permalink | Comments Off

The Fallen, Angel and Sorrow (Part 2 End: The Calling of Destiny)

“Firdaus? Surgakah itu?”

Senyum manis tersipu di depanku. Aku memandangnya penuh seksama, melihat binar matanya ada sesuatu yang datang untukku, memberiku hidup baru. Seorang perempuan dengan sayap putih bercahaya ingin menjemputku.

***

Setelah lama apa yang terjadi pada diriku, aku sering melakukan banyak kegiatan yang berbeda daripada sebelumnya. Meningkatkan tingkat aktivitasku membuatku lupa akan hatiku, tidak kuperhatikan hatiku hingga ketika aku sedang menulis, kutermenung tentang ‘ada apa denganku?’ Sudah cukup lama aku sendiri. Huh, tapi itu hanyalah sebuah keinginan. Ku rasa aku belum menemukan hal yang dibutuhkan oleh hatiku. Kulihat bintang di balik jendela, kulihat banyak bintang bersinar terang. Kutersenyum sendiri di malam itu seperti orang bodoh, namun kumenemukan sesuatu yang mampu menenangkan hatiku.

Esok ketika aku di antara keramaian, dengan sebuah buku bacaan menemaniku berjalan. Seseorang melambaikan tangannya memanggil namaku. Kakiku terhenti dan mencari siapa yang memanggilku. Kutoleh kebelakang, perempuan dengan rambut kuning panjang sebahu dan kulitnya putih. Dia menghampiriku. Rupanya dia adalah teman lama yang sudah tidak pernah kutemui, tepatnya bisa dikatakan sebagai teman sepermainan dulu. Namanya adalah Aya.

Gadis yang selalu banyak bicara, membuat lelucon lucu dan mampu membuatku tersenyum. Ia selalu menemuiku kapan saja dan begitu juga aku. Seolah-olah kami memiliki sebuah ikatan di mana dia datang untukku. Tapi, lukaku juga belum kunjung sembuh. Kupegang dadaku yang sesak, nafas yang tersengal, kusadar cinta ini masih untuk Serafina. Tapi, tentu dia bukan untukku, takdir berkata begitu. Aku memang lelah, tapi sejak Aya ada di sampingku, dia memberikan banyak senyum.

Aku dan dia menjadi teman yang baik, menghargai. Di mana saat aku sedang melamun, dia mendorongku dari belakang hingga aku tersungkur di rerumputan taman. Dengan wajah marah dan hati kesal, aku berbalik berlari mengejarnya. Dia ketakutan dengan berteriak ‘Jangan! Jangan!’. Tapi, aku tetap saja mengejarnya, menangkapnya da disampingkuh, tapi sejak Aya ada dalamku, memedari belakang terhempas jatuh bersama di antara rumput-rumput taman yang melengkung seperti bukit, dia tertawa dan aku pun ikut tertawa. Kami selalu tertawa bersama, sedih bersama, kesal bersama-sama, ingin menangis bersama, tapi di antara semua itu, senyum manis selalu hadir menenangkan hatiku, mungkin juga dia. Itulah yang kudapatkan darinya, hingga sebuah perjalanan ini tak berpijak.

***

Aku dan dia sedang duduk di pinggir pantai. Angin bertiup sepoi-sepoi membelai rambutnya yang panjang hingga aku mampu melihat wajahnya yang manis. Kutersenyum memandangnya yang sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya yang polos dan tingkahnya seperti anak-anak membuatku selalu ingin tertawa, dan kurasa lukaku ini lama-lama akan tersembuhkan oleh waktu, mungkin oleh dia yang selalu membuatku seperti memiliki sepasang sayap baru, mengobati luka yang dulu membekas dan tidak akan bisa hilang.

Kini, kumelihat dia memandangku dengan manis.

“Ada apa?”

“Ehm…tidak!”

Kuberdiri memandang matahari terbenam di sore itu. Kuhela nafas lega dan menunjuk kepada matahari.

“Kau tahu, Aya? Dulu aku ingin selalu bersinar seperti matahari. Menjadi sosok yang mampu memberikan sesuatu yang berharga walau sebenarnya itu adalah sesuatu yang menyakitkan.”

“Tapi, kenapa Emil ingin menjadi seperti matahari? Jika menjadi sosok seperti matahari, artinya akan menjadi sosok yang kesepian, bukan? Tidak memiliki sesuatu yang akan bisa berarti, tidak akan bisa memiliki seseorang yang ada di dekat kita? Matahari sangat ditakuti dan tidak akan ada yang berani untuk berdiri disisinya walau dia begitu berharga…”

Aku menunduk sadar. Aku memang mengagumi matahari, namun aku tidak tahu aku akan merasa kesepian jika menjadi seperti matahari.

“Lalu?”

Aya mendekatiku dan bersandar di bahu kiriku.

“Jika ingin menjadi matahari, jadilah matahari yang selalu memberikan sinar senja di mana akan terlihat indah bagi siapa saja yang memandangnya.”

Sebuah cerita kecil tertulis di dalam jalan hidupku, aku merasa akan pentingnya kehadirannya di dalam hidupku. Andai saja aku tidak pernah bertemu dengannya, aku akan selalu ada di dalam jurang gelap dan tidak akan kembali mengepakkan sayapku untuk terbang. Jemari tangan merenguhku hingga aku terbawa ke Firdaus, entah bagaimana dia ada, entah apa yang ada di dalam ceritanya, aku tak mampu membayangkannya. Sebuah jalan yang baik untukku berada di atas sana.

***

Dua hari sudah aku tidak bertemu dengannya, aku merasakan ada sesuatu yang kurang dari sisiku. Tapi, mungkin itu hanyalah sebuah perasaan saja. Namun, kuingin berjumpa dengannya, berbincang, tertawa dan bercanda sebagaimana adanya. Aku keluar dari rumahku, dan kulihat seorang sahabat menghampiriku.

“Emilio!? Aya…”

Aku melihat ekspersi wajahnya yang panik di antara nafasnya yang tersengal-sengal.

“Ada apa?”

Sahabat itu menarikku ke sebuah tempat yang sudah tidak asing bagiku, namun banyak dan ramai orang berdatangan ke sana dengan pakaian hitam. Kuberlari ditarik di antara kerumunan orang yang juga ingin masuk, tapi aku terjatuh saat menaiki tangga depan. Pikiranku sudah mulai masuk ke dalam kegelapan, ketakutan menyelimutiku hingga badanku mulai bergetar. Kubangun dari jatuhku berjalan pelan berdiri di sebuah pintu yang terbuka sedikit memberi sela. Orang-orang berdiri di setiap sisi dan memberiku ruang untuk membuka pintu itu. Mereka tidak ingin masuk mendahuluiku, entah apa yang membuat mereka begitu.

Seorang ayah tertunduk dan ibu berdiri di sisi pintu dengan pipi yang basah mempersilakanku untuk masuk. Namun, kubertanya-tanya sebenarnya ada apa? Mengapa semuanya menatap kepadaku?

Kulangkahkan kakiku pelan untuk berdiri tepat di depan pintu. Kuintip pelan, kudorong dengan lemah sisi pintu sedikit terbuka memberi celah pada mata kiriku hingga mampu untuk melihat ke dalam. Aku terpaku diam dengan mulut terbungkam. Kudorong lagi pintu itu semakin terbuka, kedua mataku bisa melihat jelas sosok seseorang terbaring di sebuah tempat tidur yang berada di tengah-tengah, dihiasi dengan bunga-bunga di setiap sisinya, dan aku tak bisa melihat siapa dia?

Aku masuk berlahan dengan mata berkaca-kaca, senyum manisku tersipu dan bergetar, ketakutan dan gelisah menjadi satu. Sosok perempuan dengan gaun putih, dengan kedua tangan memegang sekuntum bunga. Ia tersenyum manis dengan mata tertutup. Aku tak sanggup bilang apa-apa, dan apa…

Kubelai pipinya yang lembut dan dingin. Kupegang lengannya, kemudian kugenggam.

“Bagaimana kau tidak bilang kau akan pergi, Aya…? Kau tahu kau telah memberiku kehidupan dan kini kau pergi tanpa izin dariku…kenapa, Aya…?”

Orangtuanya berdiri di sampingku dan memegang punggungku. Aku hanya bisa tersenyum manis ketika melihatnya terbaring manis. Dia melebarkan senyumnya kepada siapa saja yang memandangnya.

***

Setelah beberapa hari, aku berada di kamarnya, tenang dan sepi. Sapu angin bertiup kencang mengibaskan gorden jendela yang terbuka. Kuberjalan mendekati meja yang biasa digunakan olehnya untuk menulis dan membaca. Kulihat ada sebuah buku coklat dan ada sepucuk daun kering terselip di sana. Kuambil buku itu, kulihat apa yang tertulis sebagai judulnya, Diariku, Puteri yang ingin tahu bagaimana cerita hidup berjalan hingga terhenti.

Kubuka di mana daun itu terselip.

Langit cerah, aku tersenyum. Langit mendung, kuharus memaksa untuk selalu tersenyum. Saat lelah menghampiriku, aku tahu siapa yang selalu ada di sisiku. Ketika aku dalam keadaan sedih, dia mengajakku untuk selalu tertawa. Kini, aku mampu melihat sebuah jalan setapak yang membawaku pada Firdaus. Memandang bintang di mana suaku untuk mengatakan apa yang ada di dalam perasaan harus tertutup oleh awan di mana sang bintang jatuh tidak bisa terlihat.

Membaca apa isi sebuah buku itu, mataku tak tertahan. Saat melihat di mana ada bait yang tertulis ‘Akankah dia tahu bagaimana perasaanku?’ aku sadar ada sesuatu yang tidak pernah kusadari bahwa dia memberikan sesuatu yang berharga di dalam hatinya untukku.

Kumenekukkan sayap, tertunduk dengan mata yang memerah. Lumut di bawah kaki basah di saat aku mulai lelah menundukkan kepala. Kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa ada sebuah kasih sayang di dalam hatinya, untukku. Kenapa aku baru mampu melihat ketika membaca? Kenapa aku tidak menyadari bahwa ia adalah penyembuh lukaku menyayangiku dan mencintaiku? Kenapa…?

Dia bertopeng di balik bahagianya, tawanya, senyumnya saat bersamaku agar aku tidak akan pernah untuk menundukkan kepala dan tidak akan pernah terbang lagi bak malaikat.

Sebuah jalan yang ditentukan oleh takdir tak mampu kulihat dengan mata, sebuah kasih yang tertutup oleh kabut tak mampu kucari…bodoh! Aku benar-benar bodoh! Kumenekukan sayapku di mana aku kedinginan dengan sangat. Wajahku basah karena air mata, kepalaku sakit karena kebodohan, raut sedihku adalah sesal. Kini, aku tahu aku juga mencintainya dan menyadarinya saat dia hilang, menghilang dari hidupku untuk selamanya…

Mungkin…dia adalah malaikat yang diutus untuk meraih tanganku dan melupakan sesal dan masa lalu…kini…aku tahu, dengan tiadanya dia di sisiku, kuingin dia selalu tersenyum di balik awan di mana di antara bintang, kesedihan ini menjadi tanda di mana aku akan selalu mengenangnya dalam cerita hidupku, karena setiap yang hilang akan hidup kembali, namun akan hanya hidup di dalam kenangan…

Kini sudah beberapa tahun sejak meninggalnya Aya. Aku hidup sebagai seorang penulis amatir dan menulis kisahnya di mana kulihat tawa, senyum, canda, dan manisnya di dalam ukiran pena pada sebuah kertas yang kini sudah lusuh dan sedikit rusak. Kututup bukunya, kuhentikan tanganku untuk menulis. Kuletakkan hati-hati pena disamping kertas, kupandang jalan yang ramai, banyak orang yang lalu-lalang melintas di depanku.

“Aya…”

Kini aku duduk di dalam sebuah kerangkeng, melipat sayap dan diam saja tidak bersuara. Banyak yang memanggil atau menyebut-nyebut namaku. Banyak sekali orang-orang yang ingin dekat denganku, namun aku tetap di dalam kerangkengku. Saat semua berlalu seperti itu, aku bertanya-tanya “Akankah ada yang membukakan kerangkeng ini nantinya?”

Hatiku tertutup seperti batu, hanya karena kebodohan aku larut dalam kehidupan sendiriku lagi. Kapankah aku akan melihat cahaya di mana akan menerangiku, memelukku, dan memberikan cinta yang tulus kepadaku…namun sekali jika adalah jika…

“Tapi, siapa yang bilang itu jika?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika aku yang akan menarikmu keluar dari kerangkengmu, menyembuhkan lukamu, dan memberikan cintaku padamu?”

“Namun, siapa kamu?”

“Hanya seorang putri…”

“Darimana?”

“Apa kau tahu bintang jatuh…?”

“Ya?”

“Tapi, siapa kau? Walau bintang jatuh, apakah iya itu kau?”

“Biar pena yang menulis cerita dalam hidupmu, hidupku, atau kita…”

End…

N. R Iswahyudhi


Posted by Yudhi in 07:12:13 | Permalink | Comments (2)