Suara menggema hebat di telinga. Sahutan-sahutan instrumen-instrumen musik bergantian terdengar jelas. Takjub perasaan merona merah, membuat wajah merah hingga mata seolah tak ingin berkedip sedikit saja. Perkusi yang menggetarkan jantung membuat penontonnya penuh dengan rasa kagum.
Edward, ia duduk seperti dikutuk oleh Mezena. Fe Athea yang mampu membuatnya diam penuh ketegangan membuat gadis cantik – Evalin terus memandangi wajah Ed – hingga akhirnya, riuh tepuk tangan mengejutkannya di mana Ed berdiri bertepuk tangan dengan penuh semangat. Kemudian, musik berikutnya dimainkan hingga ia lupa bahwa semuanya akan segera berakhir.
Pertunjukkan usai. Riuh tepuk tangan kembali menghujani para pemain musik Fe Athea. Sambil tersenyum, Ed bertepuk tangan. Hatinya sangat puas dengan pertunjukkannya. Usai itu, satu persatu penonton keluar dari Mezena.
“Sudah pukul berapa?” tanya Eva pada Ed.
“Ini sudah lewat dari tengah malam.”
Ed melihat jam tangannya.
“Hebat ya, walau sudah larut, tempat ini masih ramai!” ungkap Eva sambil melihat ke sekeliling masih ramai.
“Itu karena mereka ingin melihat Raja dan Ratu Eviania. Mereka tidak akan segera pulang sebelum bisa melihat mereka.”
Ed menunjuk pada kerumunan orang yang ingin sekali melihat keluarga Kerajaan Eviania.
“Tapi, tidak semua ingin, bukan?” sanggah Eva.
Ed hanya tersenyum, kemudian ia menyuruh Eva untuk menunggunya sebentar di tempat ia berdiri. Ia tak boleh beranjak.
“Kau mau ke mana?” tanya Eva.
“Tunggu saja, sebentar!”
Setelah beberapa menit, setangkai bunga mawar putih muncul tiba-tiba di hadapannya. Rupanya Ed membelikannya diam-diam. Itu alasan mengapa ia pergi sejenak.
“Mawar cantik ini untukmu.”
Sambil tersipu-sipu, Eva menjawab, “Terima kasih.”
“Sudahlah, ayo kita pulang!” ajak Ed.
“Tapi aku lapar, bagaimana jika kita mampir makan dulu?”
“Apa kau gila? Ini sudah larut! Aku khawatir ayah dan ibumu sudah menunggumu dari tadi di rumah.”
“Tidak! Aku ingin makan!” Eva bersikeras.
Dasar perempuan manja! Kelakuannya tidak berubah walaupun sudah selarut itu. Ed tidak habis pikir kenapa ia bisa begitu biasa saja, santai sekali.
“Begini saja, kita beli makanan kecil, dan memakannya sambil jalan, bagaimana?”
“Setuju!” serunya sepakat.
Ed dan Eva pergi ke restoran terdekat. Mereka berdua memesan kentang goreng saja. Itu agar mereka bisa menikmatinya sambil jalan.
Dalam perjalanan, Ed dan Eva saling tertawa, bercanda, dan kadang-kadang mereka bergandengan tangan. Mereka menikmati malam dingin dengan senyuman. Seolah mereka terbang bersama mengitari malam, ditemani bintang-bintang. Mereka bagaikan kekasih, namun kenyataan mereka adalah sahabat. Namun, getar-getar cinta tampak tumbuh di dalam mata sang bidadari. Tapi, apakah ada kesadaran di dalam diri Ed tentang cahaya cinta yang ada di dalam mata sahabatnya? Hanya waktu yang bisa menjadikannya nyata atau hanya bias saja kelak.
***
Ed dan Eva tiba di depan pintu gerbang kediaman Eva.
“Apa kau ingin masuk?” ajak Eva.
“Yang benar saja? Ini sudah lewat tengah malam. Bisa-bisa aku diusir orangtuamu.”
Eva tertawa sambil menutup mulutnya. Kemudian, ia menghela nafasnya sambil memandang bintang-bintang di langit sejenak.
“Baiklah, Ed. Ketemu lagi nanti di sekolah!”
“Ya.”
Eva masuk dan berlahan-lahan perempuan anggun dengan gaun putih itu hilang di hadapan Ed. Ketika pintu tertutup, maka itulah ketika Ed akan berbalik badan, berjalan meninggalkan rumah megah seperti istana di mana sahabatnya tinggal.
***
Kini, Ed sudah hampir tiba di flatnya. Tapi, di tengah-tengah jalan yang sepi dan dingin, Ed dikejutkan dengan sosok perempuan yang tergeletak bersandar pada tiang lampu jalan. Melihat itu, Ed langsung berlari menghampiri perempuan itu.
“Hei!?”
Ed langsung memeriksa keadaan perempuan itu. Ia merasakan hawa panas di tubuh perempuan itu, dan benar, tubuhnya panas. Lalu, kemudian ia periksa kakinya. Kakinya dingin sekali. Wajahnya tampak pucat.
Ed melihat ke sekeliling, namun tidak ada satu orang pun. Benar! Tentu saja tidak ada, karena itu sudah lebih dari sekedar larut. Siapa yang mau berjalan di malam menjelang subuh seperti itu. Karena tidak bisa menemukan pertolongan, Ed terpaksa membawanya ke flatnya tinggal. Ia menggendongnya.
Pikir Ed, flatnya sudah tidak cukup jauh. Jika dirawat segera, mungkin ia bisa segera siuman. Mungkin gadis itu hanya pingsan saja.
Di jalan sepi, Ed membawanya bergegas ke flatnya. Setiba di flat, Ed menyandarkan perempuan bergaun merah itu di tembok – di samping pintu masuk. Ed membuka pintu dengan kunci cadangannya, lalu menggendong perempuan itu ke kamarnya. Ed membaringkannya.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” Ed bingung awalnya, namun ia tahu apa yang harus ia perbuat. Ia menyiapkan air hangat dan air dingin. Air dingin digunakan untuk mengompres kepalanya yang panas, dan air hangat untuk mengompres kakinya yang dingin.
Ed menjaga perempuan itu. Ia duduk di samping tempat tidur. Di sela kantuknya, Ed tersenyum saat memperhatikan wajah pucat perempuan itu. Ia memiliki rambut panjang berwarna kuning keemasan terurai di atas bantal putih. Namun, pelan-pelan Ed akhirnya tertidur juga. Ia terbaring di dekat tangan kiri perempuan itu.
***
“Hei…”
“Hello…”
Sapaan lembut terdengar kecil di telingga Ed. Tak lama, sebuah belaian hangat menyentuh kepalanya. Pelan-pelan mata Ed terbuka.
Saat mata Ed terbuka, ia langsung bangkit tiba-tiba.
“Kau!?” Ed terkejut dan panik saat melihat perempuan yang ditolongnya sudah bangun, bahkan sempat membelainya,
“Sudah bangun…?”
“Iya.” Ucapnya sopan.
“Oh, aku hampir saja jantungan.” Gumam Ed sambil mengelus dadanya.
“Memangnya kenapa?” tanya perempuan itu.
“Kau terbaring di bawah lampu jalan, saat kuperiksa,tubuhmu panas sekali. Lalu, aku bawa kau ke rumahku untuk dirawat.”
“Jadi begitu…”
Perempuan itu tertunduk. Ekspresi wajahnya yang ceria berubah menjadi sedih. Ia tampak tak bersemangat, seperti ada masalah yang menyelimutinya.
“Kau tidak apa-apa?” Ed memastikan.
“Aku pikir, aku akan hilang di sana.” Ucapnya.
“Kau ini, jangan asal bicara. Kata-kata itu bisa menjadi doa.”
Ed berdiri dan ingin keluar dari kamar.
“O ya,”
Ed berhenti berjalan, “Namamu siapa?”
“Elisia.” Jawabnya malu-malu.
Ed berbalik sambil tersenyum. Lalu ia berkata “Aku Edward, jika kau sudah agak baikkan, keluar dan sarapanlah! Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.”
Ed keluar dari kamar meninggalkan Elisia.
***
Ed sudah selesai menyiapkan sarapan pagi. Ia mengambil biolanya. Ia memandangnya sejenak. Lalu, ia memutuskan untuk memainkannya sebentar.
Pelan-pelan, biola bersandar di bahu. Ed menghela nafas panjang sambil memejamkan mata. Kemudian, ia membuka matanya pelan-pelan. Ia mengatur nafasnya dengan baik. Sambil tersenyum ia memainkan biolanya.
Suara jenaka terdengar jelas. Nyaring dan lembut suara itu tercipta dari dawai-dawai biola. Nada-nadanya tiada yang salah, nada-nadanya selalu membawa siapa saja yang mendengarnya ingin terbang, seolah memiliki sayap, merona putih dengan cahayanya menyibak pagi yang terasa kelam. Itulah sebuah lagu pembuka pada pagi hari yang akan membuat senyum siapa saja yang mendengarnya.
Seorang perempuan di dalam kamar terdiam mendengar alunan-alunan indah dari biola Edward. Sang perempuan merasa tenang mendengarnya, namun ia juga merasa ingin tahu siapa yang memainkannya. Karena, ia tahu musik itu adalah musik yang tidak asing baginya. Ia berdiri, dan bergegas menuju pintu. Pelan-pelan, ia membuka pintu. Ia mengintip dari sela yang terbuka. Betapa terkejutnya hati ketika ia melihat Edward sedang memainkan biola.
Edward tampak tampan, berwibawa, dan seperti seorang kesatria bersayap putih. Seolah ia merentangkan sayapnya di bawah sinar surga yang menyelinap masuk di dalam ruang kecil itu.
Hati Elisia bergetar. Ia tahu bahwa ia suka dengan apa yang didengarnya. Pelan-pelan pintu dibuka. Jelas tampak Edward tak memperhatikan jika Elisia sedang memandangnya. Ya, memandangnya sambil tersenyum di mana matanya terpaku pada Edward dengan biolanya.
Di akhir permainannya. Edward menutupnya dengan sangat lembut, cepat, dan mempesona.
Ed menghela nafasnya, dan ketika ia membuka matanya. Ia melihat Elisia berdiri memperhatikannya penuh dengan keseriusan.
“Elisia…?” gumam Ed bingung memperhatikan Elisia yang membatu seperti patung. Ia seolah terkena kutukan dari musik yang baru saja dimainkan.
“Kau, violinist?” tanya Elisia.
“Belum bisa dikatakan begitu, karena aku masih belajar.” Jawab Ed.
“Tapi, permainanmu luar biasa! Bagus sekali!” seru Elisia senang, “Jarang aku mendengar permainan biola yang indah seperti itu sebelumnya.”
“Kau terlalu berlebihan.” Ed menyangkal sambil menaruh kembali biolanya di dalam hardcase, namun tak ditutupnya.
“Bukankah, musik klasik yang baru saja kau mainkan adalah Bach, Prelude from Partita No. 3?” tanya Elisia lagi.
“Ya, tapi dari mana kau mengetahuinya? Apakah kau juga seorang pemain musik?” tanya Ed heran.
“Aku suka karya Bach. Makanya, itu, aku, aku…”
Saat Elisia menoleh ke sebelah kiri, ia terdiam, ia melihat sebuah piano ada di ruangan itu. Ia menghampiri piano itu. Ia memperhatikan setiap sisinya.
“Apakah ini pianomu?” tanya Elisia serius. Ia tidak melanjutkan kalimatnya yang terhenti.
“Ya.”
“Apa suaranya sudah diselaraskan?”
“Ya.”
Elisia terbakar keinginannya untuk membuka penutup tuts piano. Tanpa izin dari Ed, ia membuka dan duduk di depannya.
“Hei!” Ed menghampirinya, “Apa kau ingin memainkannya?”
Elisia memandang Ed. Ia tampak ingin sekali memainkannya. Tapi, apa Elisia benar-benar bisa memainkan piano?
Gadis cantik itu diam saja. Ia memperhatikan piano itu dengan seksama. Kemudian, terdengar permintaan dari bibirnya.
“Ed, apakah kau bisa bermain biola untukku? Dan aku akan memainkan piano untukmu.”
Sontak saja Ed kaget. Ia tak menyangka jika Elisia akan memainkan sebuah musik klasik untuknya, apalagi dengan pianonya. Namun, rona wajahnya yang tampak sekali menginginkannya, telah menggugah hati Ed untuk mempersilakannya.
“Silakan, tapi lagu apa yang ingin kau dengar?”
“Beethoven, Pathetique III Rondo: Allegro.” Pinta Elisia.
“Apa? Beethoven? Pathetique? Bukankah lagu itu adalah lagu yang dimainkan oleh piano saja? Tidak ada yang pernah memainkan lagu itu dengan biola.”
“Mainkanlah bersamaku, bagaimana?”
Mendengar permintaan itu, Ed pun kembali dengan biolanya. Ia berdiri di samping Elisia yang duduk siap memulai permainannya. Dan lagu itu pun dimainkan.
Piano memulai, dan biola mengiring. Edward dan Elisia memainkan dua instrumen musik yang berbeda. Mereka memadukan sebuah musik yang memberi makna tentang kesedihan. Ya, kesedihan yang tampak jelas dari nada yang terdengar.
Edward yang tak tahu apakah Elisia bisa memainkan piano atau tidak, dikejutkan dengan betapa cepat dan mahirnya ia memainkan piano itu. Walau Ed terkejut, namun ia juga menikmati permainannya, dan benar saja biola Ed menciptakan nada-nada yang sesuai, nada-nada yang mengiringi indahnya lagu kesedihan yang mungkin akan berakhir dengan kebahagiaan.
Empat menit lima puluh lima detik. Itulah waktu yang mereka habiskan bersama dalam memainkan lagu ciptaan Beethoven.
Usai lagu itu, Elisia menghela nafasnya. Ia tersenyum. Wajah sedihnya seolah disapu oleh nada-nada tadi. Edward pun turut senang melihat perubahaan dari diri Elisia. Ia merasakan hawa yang berbeda dari perempuan itu sekarang.
“Permainan yang luar biasa, Elis!” ucap Ed memuji.
“Kau juga! Kau mahir sekali bermain biolanya. Padahal, lagu tadi adalah lagu dengan permainan solo piano. Namun, kau bisa mengiringinya dengan baik.”
“Walau begitu, ada nada-nada yang tertinggal menurutku.” Ucap Ed.
“Sungguhkah!?” Elisia terkejut, “Aku tidak tahu kalau aku melewatkan beberapa nada?”
Elisia tampak malu. Namun, ia juga berpikir tidak benar bahwa ia melewatkan satu nada.
“Maaf jika, aku terlewat satu nada.” Ucap Elisia sambil menundukkan kepalanya.
Ed menghampirinya dan berbisik, “Nada yang sempurna…tak ada yang terlewat.”
Ceria adalah sebuah ekspresi wajah yang sangat ditunggu oleh siapa saja. Karena itu adalah permulaan bagaimana kebahagiaan bisa ada. Dan, di dalam bisik Edward untuk Elisia membuka sebuah keceriaan di dalam tawa, canda, yang baru saja terukir di dalam kisah hidup mereka.
***
Usai sarapan pagi. Ed dan Elisia saling duduk berdampingan. Mereka saling diam menunggu ada yang memulai percakapan. Mereka tak tahu harus bagaimana memulainya. Namun, dasar Elisia – yang akhirnya tak sabar memulai percakapan.
“Lagu yang menyenangkan!” ucap Elisia.
“Ya, menyenangkan.” Ed setuju.
“O ya, Elis. Sebenarnya, apa yang membuatmu tertidur di bawah tiang lampu jalan?”
Elisia diam sejenak. Ia mencoba memulai jawabannya dengan baik.
“Waktu itu, waktu itu aku tak tahu harus ke mana. Aku tidak punya tujuan di Verenia ini. Jadi, aku putuskan untuk istirahat sejenak di sana, namun rupanya aku sedang tidak dalam keadaan baik.”
“Sebenarnya kau dari mana?”
“Eviantia, ibukota Eviania.”
“Berarti kau datang dari kota besar, lalu kenapa kau kemari? Di sini kau tak ada tujuan, bukankah itu bisa menyiksamu, menyusahkanmu?”
“Malah sebaliknya, aku ingin sekali ada di sini. Aku lelah ada di Eviantia. Di sana aku tidak bisa bermain musik, aku tidak bisa meraih keinginanku untuk menjadi seorang pianist, kelak.” Jelasnya.
“Jadi, kau kemari hanya ingin mengejar mimpimu untuk menjadi pianist?“
“Ya.” Jawab Elisia sambil mengangguk.
“Hanya karena sebuah mimpi, kau rela melepas segalanya. Aku tak percaya ada perempuan yang bisa melakukan itu semua.”
“Memang tidak semua perempuan bisa,” Elisia setuju, “Tapi setidaknya aku harus bisa.”
“Baik!” Ed berdiri, “Jika begitu, besok kau harus ikut aku ke sekolah.”
“Apa? Ke sekolah?”
“Ya! Sekolah. Kau harus sekolah untuk meraih mimpimu itu.”
“Tapi…”
Elisia bingung, apakah ia harus menerima tawaran Ed atau tidak.
“Kau harus sekolah di Litinia. Litinia adalah sekolah musik terbaik di Verenia. Kau akan diajarkan bagaimana memainkan piano lebih baik.”
“Tapi, biayanya?”
“Masalah biaya, kita akan mendapatkannya di jalan.”
“Caranya?”
“Kita akan bermain musik klasik di jalan Ern Li Fach. Itu akan menghasilkan banyak uang dan cukup untuk hidup dan biaya sekolahmu setidaknya. Untuk tinggal, kau bisa tinggal di tempatku sementara waktu, bagaimana?”
Usulan Ed itu telah memberi semangat baru pada Elisia. Dengan apa yang diusulkan oleh Ed telah membuat rona senyum baru lagi bagi Elisia.
“Terima kasih, Ed. Dengan ini, aku tidak akan tersesat lagi. Setidaknya, aku menemukan jalan setapak yang bisa menaungiku dalam cahaya harapan dan mimpi. Kau adalah kesatria, Ed!” puji Elisia.
“Kau ini!”
Bersambung
N. R Iswahyudhi